Lukman bin Saleh
Mohon maaf. Dalam komentar sy sebelumnya d bawah, sy menyamakan STB dg receiver digital. Krn bntuknya sama. Mereknyapun sama. Trnyata beda. STB jauh lebih sederhana dan murah dr receiver digital. STB bukan receiver digital tanpa parabola spt yg saya kira. Ini semakin memperkuat dugaan. Terkatung2nya proses migrasi ke tv digital sebenarnya bukan hanya krn masalah biaya yg harus d keluarkan masyarakat. Tp lobi2 kuat pengusaha besar yg ingin mempertahankan monopolinya dalam usaha pertelevisian…
Pryadi Satriana
“Jancuk” bukan dari “Jan Cox”, tapi dari kata “ancuk” yg berarti “bersetubuh” (dalam Purwadarminta 1939, Bausastra Jawa). Ditambahkan awalan ‘di-‘ menjadi ‘diancuk’, ungkapan bernada ‘pelecehan’ thd lawan bicara. Dlm perkembangannya, mempunyai banyak ‘varian’, maknanya pun ‘meluas’, bahkan juga konotasinya menjadi ‘baik’ (amelioratif), bisa menjadi ‘sapaan akrab’. Sebaliknya, ada kata yg ‘nilai rasa’-nya (saya lebih suka memakai ‘nilai rasa’ daripada ‘makna’) menjadi ‘jelek’ terpengaruh kata yg mengikutinya, spt pada ‘perempuan murahan’, padahal ‘perempuan’ dari bentukan ‘per-empu-an’ (‘yang dihormati’). Jadi, ndhak bener “jancuk” dari “Jan Cox.” Wis ngono ae, Cuk.
Pryadi Satriana
Th 2019 di Surabaya, Forum Alumni Jawa Timur untuk Jokowi memberi gelar “Cak Jancuk” untuk Presiden Jokowi. Hal ini menimbulkan polemik, lha wong “Mas Joko” saka Surakarta (Solo) je … . Kalau ‘presiden Jancukers’ Anda sudah tahu, he..he.. Salam. Salaam. Shalom. Rahayu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi