KEMPALAN: Setelah menunggu hampir seperempat abad lamanya, dan saat sudah memasuki lebih dari setengah abad usianya, akhirnya Kang Ghofur dan istri mendapat panggilan berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji, menuntaskan impian dan cita-cita lamanya. Tak bisa digambarkan betapa bahagianya pasangan paruh baya ini menyambut kenyataan itu. Berbagai persiapan mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling ribet sudah mereka lakukan. Tak ada yang tertinggal. Mereka sudah siap menjadi tamu Allah SWT. Kang Ghofur cuma berpikir sederhana, menghadiri undangan siapapun kita harus selalu bersikap dan berprilaku yang terbaik, yang mampu menyenangkan dan memuaskan tuan rumah. Bayangkan !! Ini menjadi tamu Allah SWT.
Ya… Kang Ghofur akan pergi haji, melaksanakan salah satu dari lima Rukun Islam, di samping Syahadat, Shalat, Zakat dan Puasa. Kewajiban ini diwajibkan kepada umat Islam yang sudah mampu untuk melaksanakannya, baik secara fisik maupun finansial. Kewajiban ini harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup oleh semua orang Muslim. Keadaan yang secara fisik maupun finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita’ah, dan orang Muslim yang memenuhi syarat ini disebut mustati.
Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Dalam mengerjakan ibadah haji tentunya seseorang harus paham akan syarat, rukun dan tata caranya. Jika seseorang tersebut tidak memenuhi syarat dan rukunnya, maka ibadah haji yang dilakukan tidak sah.
Pola haji saat ini ditetapkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Namun berdasarkan Al-Qur’an, unsur haji sudah mulai dikenal pada zaman Nabi Ibrahim AS. Menurut tradisi Islam, Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan istrinya yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail di gurun. Nabi Ibrahim AS juga diperintahkan untuk membangun Ka’bah, dibantu putranya Nabi Ismail AS.
Pada zaman sebelum era Islam, atau zaman jahiliah, Ka’bah dikelilingi oleh banyak berhala. Pada tahun 630 M, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya berangkat dari Madinah ke Mekkah untuk membersihkan Ka’bah dengan menghancurkan berhala-berhala tersebut. Pada tahun 632 M, Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah terakhir dengan pengikutnya dan mengajari mereka cara melaksanakan ibadah haji. Dari sinilah ibadah haji ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam.
Tanggal dalam melaksanakan ibadah haji ditentukan oleh kalender Islam yang berdasarkan pada tahun lunar. Setiap tahun, ibadah haji berlangsung pada 1-10 Dzulhijjah, bulan kedua belas dari kalender Islam. Diantara sepuluh hari tersebut, pada tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai hari Arafah. Karena tahun Islam lebih pendek dari tahun Gregorian, tentunya kalender haji selalu berubah setiap tahunnya. Hal ini memungkinkan musim haji turun dua kali dalam satu tahun Gregorian.
Berbekal semangat dan tekad yang kuat agar hajinya menjadi haji yang mabrur, Kang Ghofur dan istri membekali diri dengan pengetahuan tentang haji lewat membaca buku-buku dan ikut manasik haji. Manasik haji adalah Ilmu pengetahuan tentang ibadah haji. Tiba-tiba mereka juga rajin berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Sebagaimana diketahui ibadah haji merupakan gabungan daripada ibadah badaniah (ragawai), ibadah Maliyah (harta) sekaligus ibadah qalbiyah (mental).
Diperkirakan tahun ini adalah haji Akbar. Menurut sebagian besar masyarakat, Haji Akbar adalah ibadah haji yang wukufnya bertepatan dengan Sayyidul Ayyam, pemimpin hari-hari lainnya, yaitu hari Jum’at. Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, maka haji akbar adalah haji terakhir Rasulullah SAW tahun ke 10 Hijriyah. Memang saat itu hari Arafah jatuh pada hari Jum’at. Sehingga tidak terlalu salah menganalogikan saat itu dengan saat ini, apalagi faktor dan unsurnya sama.
Namun lebih dari itu, substansi haji akbar sebenarnya adalah tidak diperkenankan lagi kaum musyrikin melakukan tawaf di Masjidil Haram setelah tahun ke-9 hijriyah. Kedua, diturunkannya wahyu terakhir Al-Qur’an yang berarti telah sempurnanya ajaran Islam.
“Ya Allah berilah aku rezeki untuk bisa mengunjungi Mekkah dan Madinah dengan mudah dan sehat wal afiat sebagaimana ziarahnya orang-orang sholih terdahulu wahai Tuhan yang Maha Penyayang.”
Bagi Kang Ghofur dan istri, tak perduli ini haji Akbar atau bukan. Menurut mereka Apalah arti sebuah nama? (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi