Komitmen PDIP sebagai the ruling party terhadap wong cilik banyak dipertanyakan. Kebijakan pemerintah Jokowi–yang dalam beberapa hal dianggap tidak pro terhadap wong cilik–membawa dampak ‘’damaging’’ terhadap citra PDIP sebagai partai wong cilik. Undang-Undang Cipta Kerja, yang cenderung dipaksakan, menjadi salah satu simbol pembelaan terhadap pemodal ketimbang kepada buruh sebagai representasi wong cilik.
Otoritas dan legitimasi Megawati di PDIP sangat kuat dan nyaris mutlak. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan rakernas selama dua hari. Mega benar-benar ingin menunjukkan bahwa dia berada dalam ‘’full control’’ terhadap PDIP. Mega menunjukkan kepada publik ‘’who’s the boss’’, dialah bos dan sang supremo yang sesungguhnya.
BACA JUGA: Uduk Babi
Mega memanggil Jokowi ke ruangannya sebelum pembukaan rakernas. Video yang beredar menunjukkan Puan Maharani mengevlog dan menunjukkan Jokowi duduk di kursi menghadap Megawati yang duduk di kursi kulit menghadapi sebuah Mega besar. Jokowi kelihatan seperti seseorang yang sedang menghadap atasan, atau seseorang yang sedang mengurus surat ke kelurahan.
Show of force oleh Mega juga dipamerkan pada penutupan rapat dengan menunjuk Ganjar Pranowo sebagai prmbaca hasil rekomendasi rakernas. Salah satu poin utama adalah bahwa keputusan calon presiden dan wakil presiden dari PDIP adalah hak preogratif mutlak sang ketua umum. Ganjar diperlakukan seperti anak SD yang suka membolos dan disetrap maju ke depan kelas.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi