Dengan geram Mega mengultimatum kader-kadernya supaya berhenti bermanuver atau menghadapi risiko dipecat dari partai. Tidak ada nama yang disebut oleh Mega, tetapi semua mafhum ultimatumnya ditujukan kepada Ganjar dan Jokowi yang hadir mengikuti acara itu.
Di sela pidato yang penuh api itu Mega melunak, sempat mematikan mike, lalu berbicara lagi. Potongan ucapan Mega mengenai tukang bakso itu mendapat perhatian serius dari banyak netizen. Maunya bercanda, tapi sekalangan netizen menyebut Mega rasis dan diskriminatif terhadap orang miskin.
BACA JUGA: Ganyang Malaysia
Salah satu netizen menyindir dengan mengatakan bahwa PDIP selalu mengklaim sebagai partai wong cilik tetapi ternyata rasis terhadap rakyat kecil. Lainnya menyebut lebih baik jadi tukang oskab—bakso dibaca terbalik, gaya Malang—ketimbang jadi menteri tapi mengembat dana bansos.
Seharian tukang bakso menjadi trending topic di media sosial. Tim monitoring media PDIP rupanya mengetahui gelagat buruk ini dan melapor kepada Mega. Setelah upacara penutupan rekernas (23/6) ritual public relation dilakukan dengan beramai-ramai makan bakso dari gerobak bakso yang diundang ke kantor PDIP di Lenteng Agung. Tidak disinggung sama sekali soal pernyataan Mega soal tukang bakso. Awak media lebih suka bertanya mengenai siapa calon presiden yang diusung PDIP ketimbang mempertanyakan bakso kepada Megawati.
Ini bukan insiden pertama netizen ramai-ramai merundung Mega. Ketika krisis minyak goreng tengah memuncak Maret lalu Mega mempertanyakan emak-emak yang bersusah-payah antre minyak goreng sampai berdesak-desakan. Mega mengatakan prihatin terhadap emak-emak yang disebutnya ‘’njelimet’’. Mega mengaku heran mengapa emak-emak memburu minyak goreng, padahal seharusnya makanan bisa diolah dengan mengukus dan tidak selalu memakai minyak goreng.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi