Ada argumen yang mengatakan bahwa ungkapan itu baru diperkenalkan pada awal abad ke-19 oleh Kaum Paderi yang berfaham Wahabi. Kemunculan gerakan Paderi di Sumatera Barat menyebabkan munculnya friksi antara kalangan tradisional yang sinkretis dengan kalangan pembaru yang membawa ajaran pemurnian dari Arab Saudi melalui para haji yang baru kembali ke tanah air.
Perbedaan pendapat antara kalangan pembaru dengan kalangan tradisional terjadi di berbagai tempat di wilayah Hindia Belanda ketika itu. penjajah Belanda kemudian menunggangi perbedaan pendapat ini untuk memecah belah kekuatan perlawanan dengan memihak kepada kalangan tradisional. Perbedaan pendapat ini menjadi perselisihan terbuka karena campur tangan Belanda. Akhirnya pecah perlawanan Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk menyingkirkan Belanda.
BACA JUGA: Negara Totaliter
Perang melawan penjajah Belanda di berbagai tempat selalu diidentikkan sebagai ‘’perang jihad’’ melawan penjajah Belanda yang kafir. Perang Paderi bukan sekadar perang agama tetapi juga perang budaya dan peradaban. Identitas budaya Minangkabau—termasuk budaya kuliner—menjadi bagian dari perlawanan melawan penjajahan budaya dan agama oleh Belanda.
Di Aceh, Teuku Umar dan Tjut Nyak Dhien mengangkat senjata melawan ‘’kape’’ orang kafir Belanda yang menginjak-injak kedaulatan bangsa dan agama. Mereka semua, para pejuang itu telah diakui sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.
Sejarah menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar tradisi, tapi sudah menjadi identitas perlawanan melawan penjajahan. Memasukkan babi pada menu rendang dan uduk adalah pelecehan terhadap budaya Padang dan Aceh dan pencemaran terhadap sejarah nasional. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi