JAKARTA–KEMPALAN: Pernyataan Budayawan Jaya Suprana yang mengharapkan pencemaran udara di Jakarta dapat berkurang melalui penggunaan mobil listrik ditanggapi dengan kejam dan keji oleh pihak yang tidak suka atas penyelenggaraan Formula E di Jakarta.
Padahal harapan yang dituliskan dalam naskah “Harapan Jakarta Langit Biru” itu sesuai pernyataan Presiden Joko Widodo didampingi Ketua DPR Puan Maharani dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada saat wawancara dengan para wartawan setelah menyaksikan balap mobil Formula E di Sirkuit Ancol, Jakarta.
“Oiiii sipit bela Arab. Sama-sama pendatang, pulang sana ke kampung lu”, begitu bunyi komentar yang kejam dan keji terhadap Jaya Suprana.
“Pada hakikatnya tanggapan tersebut bernilai ganda, yaitu benar namun sekaligus juga keliru,” kata Jaya dalam pernyataannya, Senin 6 Juni 2022.
Menurut Jaya, tanggapan itu adalah benar dan tepat apabila hanya terbatas pada kata “sipit” sebab matanya memang sipit akibat secara etno-biologis dirinya memang digolongkan ke keturunan China. Namun, komentar tersebut menjadi keliru akibat penggunaan istilah “Arab”.
“Komen ‘sipit bela Arab’ menjadi meleset arah sasaran sebab saya yang bermata sipit sebenarnya sama sekali bukan membela Mas Anies yang secara etnobiologis keturunan Arab,” kata Jaya.
Jaya menuturkan, yang lebih tepat dan benar arah sasaran adalah sebenarnya dirinya membela gerakan atau semangat menggunakan mobil listrik ketimbang mobil bensin demi mengurangi pencemaran udara.
“Saya sama sekali tidak perlu membela Gubernur Jakarta, sebab tanpa pembelaan saya fakta sejarah sudah membuktikan bahwa pada 4 Juni 2022 Kota Jakarta sudah berjaya menyelenggarakan balapan mobil Formula E di Sirkuit Ancol, Jakarta,” terang Jaya.
Lebih lanjut Jaya menilai komentar tersebut sangat berlebihan karena seperti memerintahkan dirinya agar meninggalkan Indonesia. “Berarti mengusir saya ke luar dari Indonesia, terpaksa saya tolak,” ujar Jaya.
Alasan penolakan, kata Jaya, lantaran kampung halamannya adalah Denpasar yang terletak di Pulau Dewata, yang sejak 17 Agustus 1945 termasuk wilayah Republik Indonesia.
“Mohon dipahami bahwa yang berhak mengusir saya dari tanah kelahiran saya sendiri sama sekali bukan pembuat komen kejam dan keji yang tak jelas sebenarnya siapa gerangannya,” tutur Jaya.
Jaya menegaskan, sebagai warga Indonesia yang patuh hukum dirinya menyerahkan nasib diusir atau tidak diusir dari Tanah Air tercinta sepenuhnya kepada dua sahabatnya, yaitu Menkopolhukam Mahfud MD dan Menkumham Yasonna Laoly.
Selanjutnya Jaya mengungkapkan bahwa dirinya sudah mengambil keputusan tentang nasibnya di usia senja sesuai bait terakhir lirik lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki, yaitu “Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata.” (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi