Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 05:55 WIB
Surabaya
--°C

Formula E Antara Gagasan Visioner dan Ganjalan Politis

KEMPALAN: Formula E tidak sekadar ajang balap mobil. Tapi juga menghadirkan sebuah pesan, bahwa Jakarta siap memasuki masa depan. Masa depan dimana kendaraan bermotor bebas emisi. Bebas polusi. Itulah pilihan Anies Baswedan dalam menghelatnya. Setidaknya itu yang disampaikannya di hadapan lebih dari seratusan pelaku bisnis UMKM yang ikut “buka lapak” mengikuti perhelatan internasional itu.

Formula E dihelat di Jakarta tentu bukan proyek gagah-gagahan. Tidak sekadar Jakarta mampu mengadakan perhelatan itu, tanpa punya misi besar di baliknya: menyongsong masa depan dengan semestinya. Itulah pikiran Anies, yang selalu berangkat dengan gagasan visioner. Ada pesan besar di baliknya.

Pesan Jakarta itu mestinya jadi konsen negeri ini untuk bersama-sama mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Tidak perlu melihat dari mana gagasan itu muncul. Melihat gagasan yang muncul dari siapa, itu lebih pada politis.

Menyulam gagasan masa depan yang baik bukanlah hal mudah buat seorang Anies Baswedan. Ganjalan di sana-sini bisa dilihat terang benderang. Karenanya, Anies dan jajaran Pemprov DKI Jakarta perlu kerja keras mewujudkannya. Menghadirkan Formula E itu sungguh pekerjaan menguras tidak saja tenaga, tapi juga pikiran.

Sedianya Formula E diselenggakan tahun 2020. Kondisi pandemi Covid-19 menjadikan perhelatan diundur. Dan pada 4 Juni 2022, perhelatan itu sedianya berlangsung. Mempersiapkannya tentu bukan perkara mudah. Semua lalu bisa dimaknai politis. Seolah itu tangga Anies menuju 2024. Maka, menjegalnya menjadi pemandangan buruk yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Pujian Jakarta sebagai satu-satunya penyelenggara yang menghelat Formula E dengan membuat sirkuitnya sendiri, tentu punya kisahnya sendiri. Bagian dari dinamika mengganjal untuk menggagalkannya, setidaknya itu yang dirasakan publik. Rencana akan dihelat di seputaran Monas. Izin semula sudah keluar, tapi dicabut. Seputaran Monas jadi daerah terlarang untuk dihelatnya Formula E.

Maka, kisah Jakarta memiliki sirkuitnya sendiri di kawasan Ancol, Jakarta Utara, itu bisa jadi sejarah tersendiri. Dilarang dihelat di jalanan sebagaimana di negara-negara lain, maka sirkuit mesti dibuat jadi keharusan. Sirkuit selesai dibangun dengan durasi waktu hanya 2 bulanan lebih sedikit, itu menggugah decak kagum. Mengingatkan kisah legenda Pangeran Bandung Bondowoso menghadirkan candi Prambanan dalam semalam.

BACA JUGA  MUI Jangan Melegalisasi Manipulasi

Menghadirkan perhelatan Formula E tentu menguras pikiran sekaligus emosi tersendiri bagi Anies dan tim tangguh yang mengelilinginya. Jika saja Anies bermental tempe, maka gelaran internasional itu mustahil bisa diwujudkan. Meski ganjalan tidak berhenti di situ dilesakkan. Sebagian anggota DPRD DKI Jakarta, Fraksi PDIP dan PSI, terus saja tak berhenti mengoyak-oyak dengan mengajukan interpelasi meski tidak terwujud.

Interpelasi digagalkan fraksi lainnya, namun tetap saja dua fraksi itu, setidaknya nama-nama tertentu anggotanya terus bicara tentang perhelatan itu dengan tidak sebenarnya. Semata untuk mengesankan ada yang tidak beres dengan penggunaan anggaran APBD dalam penyelenggaraan Formula E.

Ditambah munculnya para buzzerRp yang punya tugas melihat Anies Baswedan dengan sedikit pun tidak ada kebaikan yang dipunya. Seolah dibayar untuk mengganjal Anies. Tidak ingin perhelatan Formula E sukses. Narasi dibangun seolah Formula E, ini ambisi Anies yang memaksakan kehendak. Sekalipun penjelasan utuh diberikan, tetap saja narasi yang dibangun untuk merusak nama baik Anies. Mempengaruhi publik untuk mempercayainya.

Saat sirkuit nyaris selesai sempurna, ada pemandangan adem yang ditunjukkan Presiden Jokowi yang bersama Anies melihat progres pengerjaan akhir sirkuit. Sungguh publik dikejutkan langkah Jokowi itu, yang awalnya tampak acuh bebek, yang ternyata luluh juga menampakkan sikap peduli.

Melihat suasana yang dihadirkan, pastilah langkah-langkah berikutnya menuju pelaksanaan Formula E akan mulus-mulus saja tanpa halangan. Seharusnya demikian. Tapi itu tidak terjadi. Hadirnya Jokowi itu tidak dimaknai jajaran di bawahnya dengan sikap yang sama.

Upaya ketua pelaksana Formula E, Ahmad Sahroni, yang menghadap Erick Thohir (ET) Menteri BUMN, agar bisa mendapat iklan dari perusahaan dalam naungan BUMN, tidak digubris.

BACA JUGA  Membaca TKA dalam Perspektif Pendidikan yang Membahagiakan serta Memanusiakan

ET yang juga berambisi ancang-ancang beradu nasib jadi RI-1 atau setidaknya RI-2, itu tampak dari baliho yang disebar, juga aktif mengunjungi kegiatan umat beragama, aktivitas yang jauh dari bidang pekerjaannya. Karenanya, bisa jadi ET beranggapan, bahwa dengan membantu perhelatan Formula E, itu sama dengan menjadikan elektabilitas Anies makin menguat. Itu tidak boleh terjadi. Mengganjal Anies seperti jadi keharusan yang dipaksakan.

Tidak ubahnya juga sikap yang diperlihatkan Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang melihat seolah perhelatan Formula E, itu layaknya ada di negara lain. Sehingga tak ada kewajiban ia untuk ikut mempromosikan, sebagaimana yang lalu aktif ia lakukan pada ajang MotoGP di Mandalika. ET dan Sandi tidak melihat kehadiran Jokowi di sirkuit Ancol itu sesuatu yang bermakna positif untuk kesuksesan perhelatannya.

Penantian panjang perhelatan Formula E, Sabtu besok akan dihelat. Saat juru warta menanyakan akan kemungkinan cuaca turun hujan, dan tidakkah perlu menghadirkan pawang hujan. Dengan percaya diri Anies menyatakan, tidak perlu menggunakan jasa pawang-pawangan untuk menolak hujan. Katanya, cukup percaya dan berkoordinasi dengan BMKG memantau perkiraan cuaca. Tambahnya, apa pun cuaca hadir, itu patut kita syukuri.

Akal sehat pecinta negeri pastilah berharap, penyelenggaraan Formula E ini bisa berjalan sukses. Bukan untuk Anies, tapi untuk Jakarta dan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Semoga Jokowi ikut hadir, meski tidak setetes pun keringat keluar menghadirkan kesuksesan Formula E. Dan jangan sampai disoraki dengan nada kekecewaan tak sepantasnya. Tidaklah sampai perlu memanggil-manggil nama Anies… Anies presiden… Janganlah itu dilakukan. Jakarta-Indonesia saat itu sedang disaksikan dunia internasional. Maka, kehormatan sebagai warga-bangsa mesti dihadirkan selayaknya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.