KEMPALAN : Setiap memasuki Jl. Boulevard Rungkut Mapan, Surabaya, dari arah selatan menuju utara –persisnya di sisi barat– selalu saya jumpai Pak Sepuh bertubuh tinggi gelap, sedang menunggui dagangannya berupa mainan anak-anak.
Barang-barang dagangannya diletakkan di keranjang seperti keranjang ikan nelayan.
Keranjang itu punya punya dua tempat untuk menyimpan barang-barang dagangannya, berada di sisi kiri dan kanan boncengan sepeda Pak Sepuh tersebut. Dan keranjang itu dicat warna hijau muda.
Memang agak aneh kelihatannya, mainan anak-anak yang semuanya terbuat dari bahan plastik, diletakkan di bagian atas “etalase” keranjang ikan dengan dipasangi satu-dua kayu untuk meletakkan atau menggantung beberapa mainan anak-anak.
Setiap kami melewati boulevard itu, istri selalu bilang, “nanti kalau hampir mendekati bapak penjual mainan, mobil tolong dipelankan ya, Pak”.
Nah, saat di depan Pak Sepuh penjual mainan tersebut yang biasanya duduk di trotoar depan salah satu rumah di situ –dimana sepeda yang memuat barang-barang dagangannya disandarkan di batang pohon– mobil saya hentikan.
Istri pun keluar dari mobil, lantas mendekati Pak Sepuh, kemudian mengulungkan selembar uang Rp 20.000 seraya mengatakan, “Pak, kangge (untuk) sarapan…”
Selalu jika lewat di depan situ, mobil saya hentikan dan istri saya pun melakukan “ritual” dengan mengulungkan uang Rp. 20.000. (tidak pernah kurang, dan tidak pernah lebih).
Tentu saja jika “ritual” itu dilakukan sore hari, ucapan yang keluar bukan “Pak, kangge sarapan,” tetapi “Pak, kangge ngopi…”.
Itulah “ritual” istri saya. Kalau saya lewat di situ sendirian, saya lakukan seperti “ritual” yang dilakukan istri saya, mengulungkan selembar dua puluh ribu rupiah, meski tidak rutin, kadang cuma saya lewati seraya memperhatikan Pak Sepuh tadi. Terlihat Pak Sepuh sedang tertidur, kadang duduk menunduk seperti melamun, atau sesekali makan nasi bungkus yang bungkusannya dibuka didasarkan di trotoar. Trenyuh saya melihatnya…
*
Perihal uang Rp 20.000 di atas, mengingatkan saya pada sosok BS.
Pada suatu hari, sekitar tahun 1990-an, dengan Daihatsu Zebra, saya dan BS (Mas Bambang Sujiyono) penggiat seni dan salah satu pendiri Bengkel Muda Surabaya sebuah organisasi kesenian dan kepemudaan yang bermarkas di kompleks Balai Pemuda, melaju di Jl. Raya Kertajaya, Surabaya.
Di stopan “bangjo” depan seberang SPBU dekat patung Airlangga, mobil saya hentikan karena lampu merah menyala.
Seorang pengemis ibu sepuh berjalan menghampiri mobil saya. BS berucap lirih, “Nyilih duwikmu rongpuluh…(pinjam uangmu dua puluh ribu rupiah)”. Saya pun segera buka dompet yang sebelumnya bertanya dalam hati: “Buat apa uang sebanyak itu. Masak mau diberikan pengemis”.
Setelah itu, BS bilang. “Tulung kekno ibuk iku…(tolong diberikan ibu itu).
Yang dimaksud ‘ibuk’ di sini adalah ibu pengemis sepuh tadi. Saya sempat sedikit “njingkat” disertai monolog dalam hati, “lho…lho…lho…lho…”. Lantas uang 20 ribu saya ulurkan ke ibu tadi.
Saat itu nilai uang 20 ribu sama dengan 100 ribu sekarang. Saya kalau memberi pengemis biasanya 100 rupiah. Atau paling banyak 500 rupiah — saat itu.
Setelah tiba di sebuah kantor kecil di kawasan Bratang (markasnya aktivis Tomi Pakasi), uang saya untuk ibu pengemis tadi dikembalikan, tetapi nilainya 5 kali lipat, disertai “bonus” BS membeli 1 lukisan koleksi saya.
(Tiba-tiba teringat BS. Al Fatihah. Semoga damai di sisiNya …). (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi