Sabtu, 18 April 2026, pukul : 10:25 WIB
Surabaya
--°C

Kita Adalah Sampah yang Merusak

KEMPALAN: Membahas manusia tidak akan ada habisnya, membahas manusia berarti membahas diri kita sendiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah proses perenungan diri. Mahluk yang dianggap istimewa di muka bumi ini sampai-sampai Tuhan mememrintahkan iblis untuk bersujud kepada manusia.

Apakah memang benar manusia adalah mahluk yang istimewa? Di lihat dari berbagai aspek memang manusia memiliki beberapa keunggulan dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Salah satu keberuntungan yang diberikan kepada manusia, adalah manusia diberi kesempatan untuk menjadi mahluk yang mengelola dan memanfaatkan alam sesuai kebutuhannya.

Manusia dengan alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena tanpa adanya alam yang menyokong kehidupan manusia dimuka bumi ini, manusia tidak akan dapat hidup dengan nyaman, nikmat, dan sejahtera.

Oleh sebab itu kita sebagai manusia dituntut untuk senantiasa bertanggungjawab pada diri kita sendiri, masyarakat dan alam yang diberikan kepada kita.

Albert Schweitzer menyatakan, penghargaan yang harus dilakukan manusia tidak hanya pada diri sendiri saja, tetapi juga kepada segala bentuk kehidupan.

Rachmad K. Dwi Susilo dalam bukunya (Susilo, 2014) mengungkapkan Oleh karena itu manusia memiliki beberapa kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dengan segala isinya. Kewajiban yang lainnya adalah untuk tidak menghambat kebebasan organisme lain untuk senantiasa berkembang sesuai dengan hakikatnya, kemudian kewajiban selanjutnya adalah untuk tidak menjebak, memperdaya, atau menjerat binatang liar.

Namun dalam fenomena saat ini kita dapat melihat beberapa kelalaian yang dilakukan oleh manusia akibat nafsu dan hasratnya sehingga membuat manusia semakin berjalan menuju kehancurannya sendiri.

BACA JUGA: Aku Ada Maka Aku Merusak

Salah satu penyebab kita berjalan menuju kehancuran adalah prilaku manusia yang membiarkan apa yang telah mereka pakai tergeletak begitu saja atau di kelola sealakadarnya. Apakah itu? Teman-teman pembaca mungkin sudah bisa menebak apa yang saya maksud, ya sampah. Sampah adalah suatu hal kecil namun jika dibiarkan begitu saja bisa mengakibatkan kehancuran bagi umat manusia.

Disinilah peran manusia sebagai khalifah di muka bumi di pertanyakan, jika benar manusia adalah khalifah di muka bumi seharusnya manusia bisa bertanggungjawab atas segala tindakan yang mereka hasilkan dan beri terhadap bumi.

Persoalan sampah memang sangat kompleks dan menjamur di negeri kita, persoalan sampah bisa kita jumpai sendiri di lingkungan terdekat kita.

Hingga kini, masalah sampah di Indonesia menjadi polemik. Jumlah dan jenis sampah terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi. Namun, laju solusi pengeliaan sampah masih tertinggal jauh di belakang.

Dikutip dari Greeneration.org ini produksi sampah yang mencapai 67,8 juta ton tiap tahunnya. Sampah organik masih merajai jenis sampah di indonesia yaitu sebesar 60%, disusul sampah plastik 14%. Lagi berbagai TPA di wilayah Indonesia juga penuh seperti TPA Bantar Gebang (Bekasi), TPA Piyungan (Yogyakarta), TPA Sarimukti (Bandung), TPA Terjun (Medan), dan TPA Suwung (Denpasar).

Beberapa sampah yang dihasilkan oleh manusia diantara lain adalah Sampah organik, sampah anorganik, Limbah B3, sampah Digital, dan sampah fashion. Sampah-sampah ini merupakan hasil dari apa yang telah manusia produksi. Secara tidak langsung manusia adalah penyebab utama adanya sampah.

Lalu apa guna manusia? Apa guna manusia itu untuk mempercepat proses kehancuran dirinya sekaligus lingkungan yang di tinggali olehnya.

Kita adalah sampah itu sendiri, di buang Tuhan ke Dunia dengan diberikan tanggungjawab menjaga, merawat, dan memanfaatkan bumi dengan segala isinya, yang malah kita lalai serta menjadi manusia rakus dan seenaknya saja pada lingkungan yang telah menghidupi kita.

Sekarang mari kita lihat dan coba hitung apa saja yang berpotensi menjadi sampah. Apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah barang itu menjadi sampah? Bagaimana cara mengelola sampah yang sudah ada? Jangan sampai apa yang saya tuliskan bahwa kita adalah sampah yang merusak itu menjadi sesuatu yang benar. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.