Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 15:41 WIB
Surabaya
--°C

Wilayah Pusat

sinung nugroho

Agak tidak biasa Pak Mirza “menimpakan kesalahan seseorang ke orang lain (walau dari bapak ke anak), yg menurut saya tidak adil. Kesalahan seseorang menjadi tanggung jawabnya sendiri, tdk boleh ditimpakan ke anak. Namun saya senang di kalimat terakhir Pak Mirza masih berharap/berdoa utk kebaikan si anak. Salam

Mirza Mirwan

Ferdinand Marcos Jr (64) memenangi pilpres Fillipina kemarin. Memang belum hasil resmi. Tetapi hingga 80% suara dihitung Bongbong Marcos, panggilan akrabnya, sudah meraup lebih dari 25 juta suara. Dua kali lipat dari suara yang diraih saingan terdekatnya, Leni Lobredo, wapres petahana — Manny Pacquiao kalah telah, malah. Aneh juga, memang, kenapa anak seorang kleptokrat-yang-sohor-di-seantero-jagat, Ferdinand Marcos Sr, yang terpaksa ngacir ke Amerika gegara tekanan rakyat yang dipelopori seorang Corazon Aquino, bisa memenangi pilpres. Apakah pemilih di sana mengidap “amnesia sosial”, sehingga lupa betapa rakus dan kejinya ayah Bongbong dulu itu? Atau mungkinkah faktor partai politiknya, Partido Federal ng Pilipinas, yang jadi penyebabnya? Penyebabnya, barangkali, karena mayoritas pemilih berusia kurang dari 40 tahun. Mereka tidak mengalami zaman ayah Bongbong berkuasa, atau masih balita. Bandingkan dengan di Indonesia. Selang 12 tahun setelah Marcos ngacir, Pak Harto terpaksa lengser — karena, seperti Marcos, sudah tak ada dukungan dari militer. Saat-saat itu hampir setiap 10 orang sekurang-kurangnya ada 3-4 orang yang menyebut nama Pak Harto dengan sinis. Bahkan mereka yang belasan tahun sebelumnya aktif menggalang apel kebulatan tekad mendukung Pak Harto tiap menjelang SU-MPR. Bagaimana sekarang? Tanyakan kepada orang yang dalam komentarnya selalu memuji-muji Pak Harto. Semoga Bongbong tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan ayahnya dulu.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

omami clan

Malu dong min Kok bisa no name, replay malah bernama Mbuh lah

PAK MAHATHIR (MALAYSIA) DAN PAK LEE KUAN YEW (SINGAPORE) Konon dulunya, kedua mereka itu sukses memimpin negara karena belajar dari pak Harto dan Golkar. Cuma belajarnya belum tuntas dan tidak berlanjut. Mungkin perlu belajar Bab 2 nya. Dan seterusnya.. Dari mentor penerus pak Harto dan Golkar (baru).. He he..

Pryadi Satriana

Baru kemarin bilang: IYA BENAR Tuhan tidak perlu dibela. Islam tidak perlu dibela. Sekarang bilang Buya Syafii pas “Islam dihina nggak ada suara.” Buya Syafii menegakkan Islam dg buah pikiran, perkataan, dan perbuatan beliau. Kamu, KS, memalukan Islam dg mengumbar fitnah di sana-sini. Nggak nyadar?

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.