Diganjar Komisaris
Para buzzer umumnya dibayar dengan rupiah, sebagai jasa pekerjaannya. Tidak persis tahu berapa nilai yang dibayar untuk buzzer senior dan yunior. Tentu tidak sama. Ada pula yang diganjar dengan jabatan selaku komisaris pada BUMN atau komisaris pada anak perusahaan BUMN dengan gaji bulanan dan bonus tahunan tidak kecil. Didudukkan bukan karena kualitas otak atau bidang keahlian yang dipunya, tapi lebih pada kualitas nyinyir yang diproduksi, khususnya lewat media sosial.
Adalah Dede Budhyarto, populer dipanggil Kang Dede, dikenal sebagai buzzer, yang diganjar sebagai komisaris independen PT Pelni. Meski demikian, ia terus nyambi selaku buzzer. Terakhir ia hantam Anies Baswedan, dan itu soal penyelenggaraan sholat Idul Fitri 1443 H, di Jakarta International Stadium (JIS). Apa yang dilakukan Anies disebutnya sarat muatan politis. Bahkan disebutnya jualan politik identitas.
Bagaimana mungkin ibadah Sholat Ied disebut sebagai politik identitas. Praktik kegiatan keagamaan diseret seolah bagian dari mempolitisasi agama. Serangan pada Anies yang sama sekali gak nalar. Jauh dari nalar sehat serangan yang dibangunnya. Ngasal saja.
Meski jabatan komisaris sudah didapat, tetap tidak mengendurkan—tidak saja Kang Dede, tapi diikuti komisaris lain hasil balas jasa–melakukan tugas-tugas utamanya selaku buzzer. Jika tidak melakukan demikian, bisa jadi jabatan yang disandang tidak akan aman. Bisa lepas melayang. Itu karena yang menanti ingin menggantikan, dari sesama buzzer tidak sedikit. Maka, eksistensi sebagai buzzer aktif tetap dilakukan Kang Dede dan yang lainnya, itu agar jabatan yang disandang tidak cepat-cepat lepas digantikan yang lainnya.
Nyinyir pada Anies jadi pilihannya, dan itu bukan sekadar negative campaign, itu hal biasa. Tapi kampanye hitam (black campaign) dilakukan saban waktu. Seakan tiada hari tanpa menghajar Anies Baswedan dengan tidak sebenarnya.
Meski dihajar dengan kampanye hitam, dan itu fitnah. Sedikit pun tidak tampak rasa kesal atau marah ditampakkan Anies atas ulah jahat mereka itu. Anies memahami fenomena yang ada.
“Saya tidak takut dihujat di medsos. Yang saya takutkan adalah apa yang kelak di tulis sejarawan tentang saya, karena mereka menulis dengan data“, ucap Anies pada satu kesempatan.
Agaknya itu yang disadari Anies, dan karenanya ia tidak menganggap kehadiran para buzzer itu sesuatu yang perlu disikapi dengan serius. Anies menyikapi dengan kerja dan kerja mensejahterakan warga Jakarta, dan itu terpampang nyata bisa dilihat rakyat di luar Jakarta. Yang berharap Anies bisa memimpin negeri ini di tahun 2024 nanti. Sejahtera warga Jakarta, yang berlanjut pada sejahtera Indonesia. In Syaa Allah. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi