Terungkaplah bahwa Kangsadewa yang wajahnya mirip raksasa itu bukan anak kandung Basudewa. Ia memang lahir dari Dewi Mahera, istri Basudewa, tetapi bapaknya adalah seorang raksasa bernama Gorawangsa dari kerajaan Sangkapura.
Ketika Basudewa sedang berburu ke hutan, Gorawangsa menyamar menjadi Basudewa dan menggauli Dewi Mahera. Gorawangsa kemudian dibunuh atas perintah Basudewa dan Dewi Mahera diusir ke hutan. Dewi Mahera meninggal setelah melahirkan Kangsadewa.
Kangsa diasuh oleh seorang pandita raksasa yang sakti, dan setelah dewasa diberi tahu supaya menuntut haknya sebagai anak raja Basudewa. Kangsa kemudian diberi konsesi sebuah kerajaan di luar Mandura. Tetapi, Kangsa yang memendam dendam karena ibu dan ayah kandungnya terbunuh atas perintah Basudewa, melakukan kudeta dan menghukum mati Basudewa.
Sebelum membunuh Basudewa, Kangsa ingin agar seluruh keturunan Basudewa dihabisi. Ada tiga anak Basudewa yang dididik di padepokan Widarakandang. Mereka adalah Narayana, Kakrasana, dan Rara Ireng. Tiga anak kandung Basudewa ini kemudian dipancing supaya mau keluar dari pertapaan dan mengikuti sayembara adu jago.
BACA JUGA: Hitler dan Ukraina
Basudewa setuju diadakan sayembara adu jago dengan harapan anak-anaknya bisa mengalahkan Kangsa yang punya jago sangat sakti. Ketiga anak Basudewa pun turun ke palagan. Tetapi mereka mengalami kesulitan untuk mengalahkan Kangsadewa karena punya kesaktian yang hebat.
Pengapesan Kangsadewa terlihat ketika ia kesengsem oleh kecantikan Rara Ireng dan ingin menikahinya. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menjebak Kangsadewa. Ketika Kangsadewa mendekati Rara Ireng, Narayana melepaskan panah saktinya yang kemudian menembus dada Kangsa sampai tewas.
Basudewa selamat dari hukuman mati Kangsadewa dan kerajaan Mandura diserahkannya kepada anak-anak yang memang dia persiapkan untuk menjadi putra mahkota. Meskipun penuh dengan intrik dan tipu daya, kisah ini berakhir dengan happy ending.
Lanskap politik Indonesia sering diperbandingkan dengan kisah-kisah pewayangan. Para politisi Indonesia juga banyak yang mengambil filosofi politiknya dari kisah-kisah pewayangan. Banyak juga yang mengidolakan tokoh-tokoh wayang sebagai panutan. Meskipun tokoh-tokoh wayang adalah fiksi tapi banyak yang menjadikannya sebagai idola seperti tokoh historis yang nyata.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi