Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 15:32 WIB
Surabaya
--°C

Melepas Ramadhan dengan Kesantunan

Mereka sadar betul seandainya hal- hal yang sedemikian itu menghinggapi mereka, maka madrasah Ramadhan yang bertujuan untuk membentuk manusia taqwa sebagaimana yang dikehendaki dalam surat Al-Baqarah 183 pastilah akan jauh dari jangkauan.

Menurut para ulama atas dasar semacam itu  maka menjadi dapat dimengerti jika tahniah (ucapan selamat) yang biasanya dilakukan oleh parasahabat saat bertemu dengan sesamanya saat berhari raya Idulfitri, berupa saling menyampaikan doa: Taqabbala lahu minna waminka (minkum), yang artinya “semoga Allah berkenan menerima (amaliyah Ramadhan) diriku dan dirimu?. Dan bukan ucapan: minal aidin wal faizin (yang artinya “semoga kita menjadi orang yang kembali dan menang” tapi kerap disalahkaprahkan oleh sebagian kita menjadi “mohon maaf lahir bathin”).

Begitu pula saat memasuki hari 1 Syawal (lebaran), cara-cara para sahabat Rasulullah bertakbir, tahmid dan tahlil –karena ruhani mereka ada dalam atmosfir sebagaimana digambarkan itu? Lebih banyak dilakukan dengan penuh rasa penghayatan, tawadhu, serta jauh dari sikap arogan dan hingar-bingar. Dan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ucapan takbir, takhmid dan tahlil tersebut lebih banyak mereka lakukan saat mereka menuju ke tanah lapang untuk salat Idulfitri.

Begitulah contoh yang diperlihatkan oleh para sahabat yang mulia kepada kita dalam melepas kepergian bulan Ramadhan dan menyambut kedatangan hari kemenangan. Sungguh, seandainya saja cara-cara para sahabat Rasulullah tersebut kita jadikan pedoman, niscaya setiap kali kita menghadapi hari-hari terakhir bulan Ramadhan kita tidak perlu melihat kumpulan manusia yang berjejalan mentawafi pasar dan pusat pusat perbelanjaan, atau menyaksikan lautan orang di terminal-terminal bis dan stasiun kereta, serta kemacetan pada hampir seluruh ruasan jalan.

Begitu pula saat tibanya malam 1 Syawal kita tidak perlu melihat lagi sebagian kaum muslimin melakukan aktivitas takbiran dengan menggunakan pengeras suara kencang sehingga  mengganggu ketentraman dan kenyamanan orang lain dan mengesankan sebuah kearoganan. Begitu juga  melakukan konvoi takbir keliling semalam suntuk  sambil menabuhi bedug yang tiada henti.

Idulfitri memang merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri dan dirayakan, khususnya bagi mereka yang berhasil melakukannya ibadah Ramadhannya penuh dengan kesungguhan dan perhitungan. Akan tetapi perayaannya harus senantiasa tetap berada dalam koridor ajaran Al-Quran dan sunnah Nabawiyyah dan bukan dengan melakukan hal aneh-aneh, sehingga dapat mencoreng wajah Islam yang damai, ramah serta dan menawarkan kesejukan bagi semesta alam (rahmatan lilalamin). (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.