KEMPALAN: Memberitakan Anies dengan buruk, itu memang rencana yang dibranding. Maka, tidak diperlukan klarifikasi kebenaran atas isi berita.
Anies Baswedan sendiri itu berita. Setidaknya selalu jadi berita. Diberitakan dengan sebenarnya, juga diberitakan dengan tidak sebenarnya. Pun berita kebaikan yang ditoreh bisa pula diberitakan dengan tidak sebenarnya, atau berkebalikan dengan realita. Suka-suka yang memberitakan, bahkan jika saja harus diberitakan sampai tingkat fitnah sekalipun, itu pun bukanlah hal aneh. Seperti biasanya, Anies tidak mempermasalahkan berita yang dipelintir dengan tidak sebenarnya.
Anies diberitakan dengan tidak sebenarnya, atau diberitakan berkebalikan, tentu punya sebab. Itu untuk mencoreng namanya, membunuh karakternya, mengikis akseptabilitasnya. Seperti disetting demikian. Sudah direncanakan demikian, dan itu dengan berbagai cara. Tidak perduli nantinya berita itu terbantahkan, yang penting penuhi jagat pemberitaan dengan berita Anies yang tidak sebenarnya.
Maka, cara pintar-pintaran mencari celah kesalahan yang sekiranya bisa digoreng menyudutkan Anies terus diupayakan. Teranyar gorengan dibuat, itu saat Anies melepas mudik gratis warganya di Pulo Gebang. Mudik gratis ini memang sudah jadi agenda Pemprov DKI Jakarta sejak Anies menjadi gubernur. Bukan tahun ini saja. Tapi tahun ini memang terkesan diberitakan lebih politis-tendensius.
Buat yang biasa memberitakan dengan berkebalikan–orang menyebut dengan buzzerRp politisi nyinyir, atau pengamat bayaran–pastilah bukan bentuk apresisasi yang didapat. Dicari celah, apa ada dari penyelenggaraan mudik lebaran itu yang bisa digoreng. Jika mungkin digoreng sampai gosong. Maka terlihatlah beberapa orang perempuan peserta mudik gratis, tidak lebih dari jumlah jari tangan, yang terlihat memakai kaus “Anies untuk Presiden Indonesia”, itu dijadikan bahan untuk digoreng. Diframing jadi berita besar. Anies disebutnya licik, melakukan pembuatan kaus dengan memakai dana APBD.
Berita dibuat, seolah Anies menggunakan momen mudik itu untuk kepentingan pribadinya. Tidaklah perlu mencari tahu kebenarannya, tidaklah perlu cek dan ricek. Terpenting buat berita tentang Anies dengan tidak sebenarnya. Tidak perlu mencari tahu asal muasal darimana munculnya kaus itu. Tuduh saja, bahwa langkah Anies itu langkah tidak amanah. Berharap berita positif Anies dan Pemprov DKI dalam meringankan beban warganya yang hendak mudik, tertutup oleh berita gorengan kaus mudik.
Memberitakan Anies dengan buruk, itu memang rencana yang dibranding. Maka, tidak diperlukan klarifikasi kebenaran atas isi berita. Apakah benar kaus itu memang disediakan oleh Pemprov DKI? Ternyata tidak. Kaus itu dibuat oleh relawan dari Warga Kampung Tanah Merah. Pada momen itu Anies hanya membagikan tool kit, sumbangan dari PMI yang berisi diantaranya sanitizer dan masker. Setelah klarifikasi diberikan, tetap saja upaya menggoreng berita itu tak hendak dihentikan.
Dilepas begitu saja berita buruk tentang Anies. Dan itu memang yang diharapkan dari setiap pemberitaan tentangnya. Mencari sisi yang bisa digoreng, dimana Anies jadi pihak yang dipersalahkan, bahkan tidak ada baik-baiknya. Saban waktu berita tentang Anies dengan tidak sebenarnya diberitakan. Makin hari intensitasnya makin meningkat jadi suguhan berita. Adalah duet dua Fraksi Parpol di DPRD DKI Jakarta, PSI dan PDI Perjuangan, yang bekerja menggoreng isu tidak sebenarnya, dengan tidak merasa risih sedikitpun.
Anies seperti biasanya tenang-tenang saja dengan munculnya pemberitaan tidak sebenarnya itu. Ia seperti biasanya tak sekalipun buat laporan pengaduan pencemaran nama baik atau fitnah pada pihak kepolisian, misal. Anies membiarkan saja berita itu terkubur dengan sendirinya. Meski seiring waktu, berita yang terkubur itu muncul dan muncul lagi dengan versi lain, yang memang diproduksi oleh team kreator yang dibayar bekerja untuk itu. Sekali lagi, itu upaya mengikis akseptabilitas Anies Baswedan. Lambat laun akan menurunkan juga elektabilitasnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi