Menu

Mode Gelap

Kempalanda · 1 Mei 2022 12:13 WIB ·

Melepas Ramadhan dengan Kesantunan


					Ilustrasi masjid yang ramai. (Rumman Amin-Unsplash) Perbesar

Ilustrasi masjid yang ramai. (Rumman Amin-Unsplash)

Oleh Kholid A.Harras

Ketua PC Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung

KEMPALAN: Berbeda dengan kebanyakan kita yang pada umumnya merasa gembira serta menampakkan wajah sumringah saat menghadapi hari-hari terakhir Ramadhan, syahdan apa yang diperlihatkan oleh para sahabat Rasulullah justru sebaliknya. Di saat-saat semacam itu justru mereka pada umumnya akan lebih banyak menunjukkan wajah yang sedih serta hati yang gundah-gulana.

Mengapa? Berikut antara lain yang menjadi alasan-alasannya. Pertama, mereka agaknya sungguh memahami dan menghayati benar serta benar-benar memahami dan menghayati atas sejumlah kekayaan kandungan hikmah bulan tersebut dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Seperti kita tahu Ramadhan bukan hanya merupakan bulan yang penuh dengan taburan hikmah, berkah, serta rahmat dan ampunan-Nya, tetapi ia juga merupakan hari-hari di mana Allah melipatgandakan nilai pahala bagi setiap kebajikan yang dilakukan serta menyediakan sebuah malam keberkahan (laitul qadr) yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan seribu bulan.

Nah, jika bulan yang sarat dengan keunggulan tersebut kini akan segera meninggalkannya. Padahal di tahun depan tidak ada jaminan sama sekali dari Allah apakah mereka masih diberi kesempatan untuk menikmatinya lagi—wajarlah jika mereka menanggung kesedihan hati yang dalam.

Oleh karena itu bagaikan orang yang masih dilanda rasa lapar dan di hadapannya tersedia semua makanan dan minuman yang lezat dan enak namun waktu yang diberikan untuk menikmatinya tinggal beberapa menit lagi, di sisa-sisa penghujung Ramadhan dengan penuh kesungguhan mereka akan berusaha sekuat daya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amaliyah ibadahnya.

Antara lain  tadarus Al-Quran, qiyamulail, serta bagi mereka yang mampu dalam mengeluarkan infak, sadaqah, serta menyantuni fakirmiskin. Selain itu, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw., pada sepuluh hari terakhir mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan iktikaf di masjid.

Kedua, penyebab kesedihan serta kegundahgulanaan mereka karena khawatir andai seluruh bentuk amaliyah Ramadhannya tidak ada nilainya dalam pandangan Allah. Kualitas shaum mereka khawatir sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah hanyalah sekadar beroleh ‘rasa haus dan lapar saja’. Begitu pula tadarus Al-Quran, qiyamulail, infak-sodaqohnya, mereka cemas –karena misalnya kakut tercemari oleh unsur-unsur riya, takabur, dan sombong– tidak ada nilainya sama sekali di mata Allah.

Mereka sadar betul…

Artikel ini telah dibaca 140 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Oligarki Digital dan Zombie Metaverse

18 Mei 2022 - 06:44 WIB

Untung Ada Vina Panduwinata & Reza Artamevia Menemani Keliling Melbourne

17 Mei 2022 - 20:06 WIB

Kunci Ketenangan

17 Mei 2022 - 07:50 WIB

Demo Mahasiswa dan Reproklamasi Republik

15 Mei 2022 - 07:43 WIB

Oligarki Merampas Masa Depan Mahasiswa

14 Mei 2022 - 09:38 WIB

Melbourne Kota Ternyaman Dunia namun Kejam bagi Perokok

12 Mei 2022 - 10:46 WIB

Trending di kempalanalisis