Sedangkan pada kebanyakan masyarakat kita tahniah Iedul Fitrinya mengalami amputasi. Hanya ujungnya saja: minal aidin walfaizin dan pemaknaanya menjadi “mohon maaf lahir batin”. Sebuah pemaknaan yang salah kaprah dan ngawur. Misalnya, apakah “maaf lahir” itu? Kata ‘lahir’ dalam bahasa Indonesia ini dipungut dari bahasa Arab ‘al-dhohiru’ yang artinya tampak wujudnya. Sedangkan kata ‘batin’ berasal dari kata ‘al-bathinu’, yang artinya tidak tampak wujudnya. Jadi jika merunut arti semantiknya pernyataan “mohon maaf lahir dan batin” berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak maupun yang tidak tampak. Benarkah demikian? Bukankah akan lebih pas jika kita memohon maaf itu atas kesalahan yang disengaja atau yang mungkin tidak disengaja atau khilaf? Hal itu lebih manusiawi sekaligus rasional
Boleh jadi akibat pemaknaan yang kurang tepat tersebut menjadi pangkal mula mengapa ritual Idul Fitri dalam kantong memori umat Islam di negeri ini dipersepsi sebagai kegiatan budaya yang wajahnya seperti kita lihat saat ini; memunculkan terjadinya perpindahan manusia secara besar-besaran dari kota ke desa yang disebut mudik, tradisi sungkeman, tradisi halal bihalal dan sejenisnya.. Padahal andai saja pengartian Idul Fitri itu pada yang kedua , yakni ‘kembali berbuka’ mungkin persoalanya akan jauh lebih sederhana, dan kedatangan hari raya Idul Fitri tidak harus menjadi perhelatan budaya kolosal dan terkesan jor-joran. Wallahu a’lam. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi