Tony Stark
Sebenarnya mudah kalo mau adil. Brp score index scopus Rocky Gerung pujaan desi yg katanya lbh hebat dari AA, ternyata lbh rendah dari AA alias tdk terdaftar hahaha. Btw kriminal yg ditembak mati di KM 50 tdk bisa dibandingkan dgn AA, yg bisa dibandingkan itu peristiwa pemukulan Sarumpaet yg ternyata hoax hahaha.
Johannes Kitono
Typo : Ir Karim alumni IPB eharusnya Ir Kasim asal Aceh yang terjebak KKN selama 15 tahun di Pulau Seram. Mengabdikan diri kepada masyarakat petani di sana. Taufik Ismail yang alumni FKH – UI ( sebelum beralih ke IPB ) merasa malu membandingkan dirinya yang Drh tapi penyair dengan prestasi Kasim yang mengabdi tanpa pamrih. Rektor IPB, Prof A H Nasution memberikan gelar Insinyur Kehormatan kepada Ir. KASIM yang memang pantas disandangnya.
donwori
dalam dunia akademis ada 3 kriteria utama tugas seorang dosen : pengabdian mesyarakat, pengajaran, penelitian. skor H-index itu ranahnya penelitian. sementara banyak dosen2 lain, tidak cuma AA, yg lebih memilih fokus di pengajaran sampai lupa di penelitian. apa itu salah? nggak juga. kalau ada dosen yg ngejar tiga kriteria di atas secara maksimal artinya dia dosen top dan calon profesor di masa mendatang. kalau memilih fokus di pengajaran/pengmas ya itu hak dia. toh meskipun ga bertitel profesor dia tetap boleh membimbing mahasiswa untuk meraih gelar s1/s2.
sementara untuk komparasi dengan peristiwa KM50 itu ga sepadan. yg di jalan tol itu diawali dari saling kebut2an di jalanan dan tembak menembak. udah jadi resiko ketika ada yg melawan petugas ya siap2 aja dibedil. sementara yg di depan gedung DPR kemarin satu orang lagi ikutan demo dengan damai, tidak sedang memprovokasi, tidak sedang teriak2 macam orang gila, tau2 didatangi puluhan massa langsung main gebuk dan melorotin celana. dari dua kejadian itu konstruksi peristiwanya sama sekali berbeda.
Pryadi Satriana
Kasali, dan Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo (Ketua Dewan Guru Besar UI) pun H-Index Scopus = 1. Jadi, itu bukanlah segala-galanya. Guru Besar pun tidak selalu tulisannya terindeks di Scopus. Dari empat guru besar di Dept. Ilmu Komunikasi, sejawat AA, dua orang H- Index Scopus = 0 dan dua orang lainnya, H-Index Scopus: – (not found). Terindeks di Scopus hanya menunjukkan bahwa artikel yg ditulis memenuhi kriteria Scopus, bukan menunjukkan penguasaan ilmunya, apalagi pengamalan ilmunya. Pak DI perlu lebih hati- hati, apalagi terhadap orang yg nggak dikenal atau baru kenal. Saya rasa Pak DI lupa ini walaupun sering ke Amerika: “Don’t talk to a stranger, (apalagi berbagi lapak).” CMIIW. Salam.
Mirza Mirwan
Seandainya Anda semua membaca artikel Desi Armando hari ini dengan cermat, pasti Anda sepakat dengan saya: Pak DI tidak dalam posisi menghakimi yang ini salah, yang itu benar. Atau sebaliknya.
Pak DI hanya memuat apa yang ditulis Desi Suyamto untuk Pak DI. Mungkin Desi menganggap tulisan Pak DI dalam edisi Demo Armando kemarin itu kesannya seperti “membela AA”. Biar berimbang, ya sudah, dimuatlah “nota keberatan” dari DS yang dosen IPB itu. Pemuatan itu, mestinya, tidak harus dibaca bahwa Pak DI sepenuhnya setuju dengan substansi tulisan DS. Tetapi, ya, begitulah. Banyak pembaca, yang sebenarnya “well educated”, menganggap Pak DI sepemikiran dengan Desi. Lalu menyematkan atribut macam-macam yang berkonotasi negatif.
Sabar, Pak DI.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi