Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 17 Apr 2022 10:23 WIB ·

Darah Juang Bangkit Melawan, Indonesia Baru Tanpa Luhut


					ILUSTRASI: Demo mahasiswa 11 April 2022. (Foto: tangkapan layar twitter) Perbesar

ILUSTRASI: Demo mahasiswa 11 April 2022. (Foto: tangkapan layar twitter)

OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)

KEMPALAN: Luhut memang “hebat”, dengan kepiawaiannya, dia mampu “mengarahkan” Kebijakan tentang Indonesia sesuai dengan “big dusta” yang dimiliki.

Kedustaan Luhut semakin terlihat nyata, ketika banyak pihak yang mulai mempertanyakan dan berdebat langsung dengannya.

Ketika berkunjung ke UI beberapa waktu lalu, Luhut mendapatkan pertanyaan dari BEM UI tentang big data yang dimiliki yang katanya 110 juta rakyat Indonesia menghendaki adanya penundaan pemilu dan mengendakj Jokowi tiga periode. Luhut diminta untuk membuka data itu ke publik.

Nampaknya Luhut pun tak berkutik dengan kebohongannya. Berlindung dibalik kata demokrasi dan orang tua, Luhut menghindar dari serangan rasional mahasiswa.

Akibat kebohongan itulah, akhirnya menimbulkan kegaduhan-kegaduhan dan korban.

Sadarkah Luhut tentang itu? Ternyata tidak, dengan kepongahan dan kecongkakannya, Luhut terus berusaha untuk melakukan aksi “bejatnya” Menjerumuskan Jokowi pada presiden tiga periode dan penundaan pemilu. Meski jelas-jelas Jokowi sudah melarangnya.

BACA JUGA: April Mop ala Anies

Nampaknya Luhut memang diduga menjadi sumber kegaduhan dan kesengsaraan rakyat Indonesia.

Di tangan Luhut lah kebijakan Jokowi mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Tengok saja hilangnya minyak goreng, kenaikan harga BBM, Pemindahan ibu kota baru, UU minerba dan Omnibus Law.

Meski Luhut bukan menteri koordinator yang membidangi itu, namun dialah yang paling lantang digarda depan menjadi benteng pertahanan.

Sehingga tak salah kemudian banyak orang menduga bahwa Luhut adalah biang kesengsaraan rakyat dan kegaduhan dengan berbagai kepentingan yang dimiliki.

Demo mahasiswa yang berlangsung di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia mulai 28 Maret 2022, lalu dilanjutkan tanggal 11 April yang akan dilanjutkan lagi dengan Kongres Rakyat, 18 April 2022 dan aksi bersama kembali tanggal 21 April 2022 bisa dipahami sebagai reaksi mahasiswa dan masyarakat atas sikap Luhut selama ini.

Tuntutan-tuntutan yang berkembang bisa dilihat seperti, menolak penundaan pemilu dan wacana presiden tiga periode, menolak pemindahan ibu kota negara, meminta diturunkannya harga minyak goreng dan stabilisasi harga kebutuhan bahan pokok lainnya, menolak kenaikan harga BBM, meminta DPR RI agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat bukan aspirasi partai, Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menjemput aspirasi rakyat sebagaimana aksi massa yang telah dilakukan dari berbagai daerah dari tanggal 28 Maret hingga 11 April 2022, Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk tidak mengkhianati konstitusi negara dengan melakukan amandemen, bersikap tegas menolak penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode, Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menyampaikan kajian disertai 18 tuntutan Mahasiswa kepada Presiden yang hingga saat ini belum terjawab.

BACA JUGA: Menghidupkan Kembali Demokrasi

Reaksi keras perlawanan mahasiswa dengan tagar mahasiswa bangkit dan melawan ini tidak berjalan sendirian, bahkan wakil rakyat dari PDIP Masinton Pasaribu jelas dan tegas mengatakan agar Luhut mengundurkan diri karena menjadi sumber kegaduhan.

Ketua DPD RI La Nyala Matalliti juga bersikap sama, agar Luhut berhenti menyebarkan kebohongan tentang big data yang mengatakan rakyat menghendaki penundaan pemilu.

“Jadi saya sampaikan bahwa yang disampaikan oleh saudara Luhut Binsar Pandjaitan itu adalah (berita) bohong. Saya hanya menyampaikan itu (berita) bohong,” kata LaNyalla di Jakarta, Kamis (14/4). Sebagaimana ditulis JPNN.

Bangkitnya mahasiswa melawan, mengingatkan saya pada lirik lagu Darah Juang yang menjadi lagu wajib penyemangat gerakan. Lagu itu mampu merakam keadaan rakyat dan menggelorakan api perjuangan.

Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat besimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami
‘Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti

Disini negeri kami
Tempat padi terhampar

Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat besimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami
‘Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami

Padamu kami berbakti
Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami
‘Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti

Desakan beberapa pihak yang meminta Jokowi memberhentikan Luhut harus dipahami sebagai upaya menyelamatkan Jokowi, karena dengan itulah Jokowi akan bisa lebih fokus menjalankan rencana- rencananya yang belum dituntaskan sebagai janji politik yang pernah disampaikan.

BACA JUGA: Memilih Presiden yang Tepat

Tak sabar juga menunggu tahun 2024 untuk mendapatkan presiden baru yang berpihak pada rakyat, tentu presiden yang berani melawan kepentingan oligarki dan kekuasaan yang serakah.

Selagi Luhut sibuk dengan upaya penundaan pemilu, rakyat bangkit lah agar kita mendapatkan presiden yang mensejahterakan dan segera keluar dari kesengsaraan ini. (*)

Editor: DAD

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Anies Semakin Melejit

17 Mei 2022 - 08:41 WIB

Anies dan Titik Nol Indonesia

16 Mei 2022 - 14:11 WIB

Anies Hanya Kalah Kalau Gak Nyapres?

16 Mei 2022 - 12:35 WIB

Seperti Bung Karno, Anies Menjadikan Indonesia Disegani Bangsa Lain

15 Mei 2022 - 13:09 WIB

HUT ke 792, Menjadikan Surabaya Semakin Melayani

15 Mei 2022 - 06:45 WIB

Penculik Bogor Kok Disorot Puan Maharani?

14 Mei 2022 - 19:08 WIB

Trending di kempalanalisis