Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 16 Apr 2022 07:55 WIB ·

Renungan Paskah: Kebajikan, Kesalehan, Kasih: Pengorbanan


					Renungan Paskah: Kebajikan, Kesalehan, Kasih: Pengorbanan Perbesar

KEMPALAN: Legend of the White Snake (Bai She Chuan) atau Legenda Ular Putih masuk ke dalam empat cerita rakyat teragung dari negeri Tiongkok (muncul sejak dinasti Tang tahun 618-907 dan ditulis zaman Kaisar Qianlong tahun 1733-1735 pada dinasti Qing) dan menjadi tersebar di seluruh Tiongkok sesudah ditinjau oleh Kaisar. Berbeda dengan Journey to the West (Xi You Ji) atau Kera Sakti yang masuk ke dalam empat novel klasik teragung dari negeri Tiongkok.

Dalam edisi sebelumnya kita telah mempelajari bahwa manusia tidak akan pernah dapat membalas budi baik Tuhan. Manusia perlu belajar mengingat kebajikan, kesalehan dari teladan Tuhan sendiri, dan belajar mengasihi Tuhan dan sesama seperti Tuhan Yesus.

Hidup Bai Suzhen: Budi, Pengorbanan, Doa, Penderitaan

Pengorbanan

Kasih: Berkorban Meninggalkan Kekuatan 1.000 tahun

Di dalam kisah sebelumnya, Bai Suzhen belajar mengerti dunia dan manusia, dan akhirnya tersentuh hatinya serta berusaha membalas budi baik dari Xu Xian. Kisah cinta akhirnya terjadi antara Siluman Ular Putih dan Tabib Xu Xian. Suatu kisah cinta yang terlarang yang dapat menyebabkan Xu Xian harus kehilangan nyawanya karena terkena racun ular. Xu Xian diselamatkan oleh Ular Putih dengan menukarkan inti sari kekuatan hasil pertapaannya selama 1.000 tahun sehingga si Ular Putih menjadi lemah seperti manusia biasa. Dari percaya akan kebaikan Xu Xian, Bai Suzhen membalas budi kebajikan yang berkembang menjadi pengorbanan ketekunan menuju kesalehan.

Hidup Orang Kristen: Budi, Pengorbanan, Doa, Penderitaan

Pengorbanan

Kasih: Berkorban Meninggalkan Kerajaan Sorga (1.000 tahun)

Demikian pula yang sudah dibahas di dalam edisi sebelumnya, agar manusia dapat bertumbuh dan berbagian di dalam kodrat Ilahi, manusia haruslah mengingat janji Tuhan dan bergantung kepada kuasa Ilahi-Nya, dan bertumbuh dari iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, dan tercapailah kesalehan.

Hal ini dapat kita temui dari para pahlawan iman, dua di antaranya adalah Musa dan Paulus yang sangat mengasihi orang terhilang yang ditelan oleh hawa nafsu dunia ini, sampai- sampai mereka rela namanya dihapuskan dari Kitab Kehidupan Tuhan sendiri. Mereka menyadari artinya menanggung kehinaan dan bila perlu mati berkorban bagi orang-orang yang mereka kasihi. Musa bagi orang Israel di PL dan Paulus bagi orang Yahudi di PB. Musa ingin nama dihapus dari Kitab Kehidupan tetapi justru Tuhan secara paradoks membela dia karena Musa begitu lembut dan mengasihi umat-Nya seperti hati Tuhan sendiri dan patut menjadi wakil Tuhan. Itu pun akhirnya Musa mengalami satu hal bahwa dia tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian, karena kekerasan hati orang Israel. Demikian pula rasul Paulus yang tidak melihat penggenapan janji kepada bangsa Yahudi. Dia justru harus melayani orang non-Yahudi. Tetapi satu-satunya yang dapat mendamaikan Allah dan semua umat manusia hanyalah Tuhan Yesus Kristus dengan kematian-Nya di atas kayu salib di mana Dia diekskomunikasi dari antara orang-orang hidup dan benar-benar mengalami dunia orang mati tidak sekadar seperti Daud yang mengalami perasaan dikejar-kejar.

Dan Tuhan yang sama itu baik, Tuhan menguburkan Musa sendiri dan memperlihatkan semua tanah perjanjian yang dijanjikan kepada bangsa Israel. Demikian Tuhan yang sama juga baik, dengan memperlihatkan semua janji dan rahasia Injil kepada rasul Paulus di dalam Roma 11 yaitu Allah mengurung semua bangsa di dalam ketidaktaatan untuk menyatakan bahwa Dia itu benar dan adil dan bahwa manusia berdosa. Sehingga melalui kecemburuan yang kudus digerakkan oleh Roh Kudus yang ilahi, dapat menyelamatkan umat pilihan baik Yahudi maupun non-Yahudi.

Betapa dalam misteri Ilahi dan kebaikan Tuhan. Karena segala kemuliaan itu dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan umat pilihan-Nya binasa? Terkadang orang bisa salah diekskomunikasi di gereja, dituduh dan difitnah, atau antargereja saling dianggap atau menganggap bidat karena salah paham, saling mengekskomunikasi, ada juga yang salah dihakimi oleh pengadilan negara sampai bergenerasi baru ketahuan yang benar itu ternyata dia yang didakwa dan dijatuhi hukuman. Tetapi Tuhan mencatat itu semua di dalam Kitab Kehidupan-Nya, termasuk Martin Luther yang pernah mengalami kengerian itu, dikeluarkan dari Gereja Roma Katolik saat itu, dan tidak bisa pindah gereja dan memang tidak ada gereja lain di tempatnya pada waktu 500 tahun lalu. (Buletin Pillar Gereja Reformed Injili Indonesia Kemayoran Jakarta)

Editor: Freddy Mutiara

 

Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Surabaya Milik Kita, Ayo Kita Bantu Walikota

18 Mei 2022 - 21:54 WIB

Peci Terdakwa Disoal Jaksa Agung, sebagai Trik Kuno

18 Mei 2022 - 12:05 WIB

Arus Dukungan untuk Anies Cermin Kebangkitan Indonesia

18 Mei 2022 - 11:54 WIB

Anies Semakin Melejit

17 Mei 2022 - 08:41 WIB

Anies dan Titik Nol Indonesia

16 Mei 2022 - 14:11 WIB

Anies Hanya Kalah Kalau Gak Nyapres?

16 Mei 2022 - 12:35 WIB

Trending di kempalanalisis