Senin, 15 Juni 2026, pukul : 14:22 WIB
Surabaya
--°C

Klithih

Klithih mengalami pergeseran makna. Klitih kini identik dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelajar SMP dan SMA. Istilah ini muncul untuk mengganti kata tawuran, setelah peristiwa pembacokan yang marak terjadi sepanjang 2011 sampai 2012.

Geng-geng pelajar di Yogyakarta ini sering melakukan aksi tawuran pada 90-an. Pada 2000-an pemerintah kota bertindak tegas dengan memerintahkan sekolah memecat pelajar yang terlibat tawuran.

BACA JUGA: Pak Bill dan Pak Amien

Alih-alih meredam aksi, ruang gerak geng pelajar malah bergeser ke jalanan untuk mencari musuh. Sasarannya bukan hanya pelajar tapi juga masyarakat umum. Klithih menjadi model baru street crime, kejahatan jalanan, yang terorganisasi dan mulai ditunggangi kepentingan kriminal yang lebih serius oleh kaka-kakak kelas atau alumnus.

Struktur organisasi klitih selama ini kian berkembang. Tak hanya di sekitar Kota Yogyakarta melainkan di beberapa wilayah lain, seperti Sleman dan Bantul. Pun korbannya tidak bisa diidentifikasi karena bersifat random.

BACA JUGA  Mundur Selangkah, Maju Seribu Langkah

Sejarah kriminalitas jalanan di Yogya merentang cukup panjang. Hal ini menjadi fenomena paradoks budaya, karena di satu sisi Yogya adalah jantung budaya Jawa yang refined, halus, tetapi di sisi lain Yogya menjadi salah satu daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi.

Operasi pemberantasan penjahat jalanan terbesar di Indonesia terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada 1980-an. Operasi yang dikenal sebagai ‘’Petrus’’, pembunuhan misterius itu dilakukan oleh tentara atas perintah Soeharto. Ini adalah operasi pembunuhan sipil terbesar yang terjadi setelah peristiwa pembunuhan anggota PKI pada 1965.

Operasi Petrus pertama dilakukan di Yogya. Saat itu angka kejahatan di Indonesia begitu tinggi, khususnya di daerah  dan Jawa Tengah. Pemerintah Orde Baru pada saat itu melakukan operasi rahasia memberantas kejahatan dengan menangkap dan membunuh para preman, perampok, gali, atau orang-orang yang dianggap mengganggu ketentraman masyarakat.

BACA JUGA  Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo Kompak Hijaukan Kota, Wujudkan Sidoarjo Asri di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

BACA JUGA: Malioboro

Pada 1983 ada 532 orang tewas karena tembakan. Tindakan pembersihan ini dilakukan tanpa melalui proses hukum atau keputusan pengadilan. Mereka yang dicurigai sebagai gali, preman, atau bromocorah, diculik atau diciduk dari rumah atau dari pinggir jalan, dan keesokan harinya mayatnya ditemukan tergeletak dalam sebuah karung di pinggir jalan dengan luka tembak.

Operasi street justice ini  misterius. Karena penembaknya belum diketahui, operasi ini dikenal dengan istilah penembakan misterius atau petrus. Awalnya terjadi di Yogya ketika Komandan Kodim Yogyakarta, Letkol. M. Hasbi melancarkan operasi pemberantasan kejahatan yang diawali dengan pendataan para pelaku kriminal.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.