Ketika itu, orang-orang yang dianggap sebagai gali (gabungan anak liar) maupun preman dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan tewas. Rata-rata dari mereka mengalami luka tembak di bagian kepala dan beberapa di bagian leher.
Salah satu cara yang digunakan dalam operasi petrus adalah penculikan. Para gali, preman, atau pelaku kejahatan itu menjadi korban penghilangan orang secara paksa dengan cara dijemput orang tak dikenal dari rumah, dijebak oleh teman sendiri, dipanggil polisi ke kantor, ada pula yang dijemput dari dalam penjara bagi mereka yang sedang mendekam di tahanan.
BACA JUGA: Manusia Kerdil
Beberapa hari kemudian muncul berita di koran yang menampilkan penemuan mayat orang-orang bertato dengan dada tertembus peluru. Akibat peristiwa ini, banyak preman yang akhirnya menyerahkan diri kepada aparat.
Di antara korban adalah tokoh gali yang terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta. Salah satu preman legendaris Jogja yang turut jadi korban petrus adalah Samudi Blekok. Pada masa jayanya, Blekok adalah jagoan yang memiliki tubuh yang kuat, kekar, dan berkulit hitam. Di pinggangnya, selalu terselip senjata kebanggaannya yaitu sebuah trisula.
Tapi, di balik tampilan yang sangar Blekok jago main gitar dan sering mengamen dan menghibur turis bule di Malioboro dengan lagu-lagu Rolling Stone. Samudi Blekok menjadi legenda Malioboro dan oleh para bule “Black Sam”.
Saat operasi petrus memanas pada 1983, Blekok meninggalkan melarikan diri ke luar kota. Setelah menganggap situasi sudah aman, ia kembali ke Yogya dan beroperasi kembali di Malioboro. Tapi, hanya beberapa hari beroperasi Blekok ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan di kawasan Kotagede dengan wajah rusak.
Tim pencari fakta yang dipimpin oleh Yosep Adi Prasetyo menemukan bukti bahwa petrus melibatkan TNI, polisi, garnisun, dan pejabat sipil. Yang menjadi korban adalah mereka yang dianggap memiliki masalah dengan hukum atau dianggap meresahkan masyarakat, seperti copet, preman, residivis, ataupun orang-orang yang memiliki ciri memiliki tato di tubuhnya.
BACA JUGA: PKI dan TNI
Korban salah sasaran juga terjadi. Orang yang tidak bersentuhan dengan hukum juga menjadi korban, seperti petani, penjaga masjid, PNS, karena memiliki nama yang sama dengan daftar target operasi. Daftar itu semua dipegang oleh militer.
Kekerasan petrus menjadi salah satu kejahatan paling berdarah di Indonesia, dan ironisnya korban terbanyak terjadi di Yogya.
Kali ini kemunculan klithih bisa jadi tidak terlalu mengagetkan bagi masyarakat Yogya yang tahu sejarah premanisme. Tentu tidak akan ada lagi operasi semacam petrus, tetapi masyarakat tetap berharap polisi bertindak cepat dan efektif. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi