KEMPALAN: Dikotomi kampret dan cebong atau kaceb, masih tetap hidup di tengah masyarakat, memisah opini masyarakat menjadi dua dan menjadikan bangsa ini ‘’a divided nation’’, bangsa yang terbelah. Isu apa pun yang muncul hampir selalu membelah opini bangsa ini menjadi dua kubu yang berhadap-hadapan secara detrimental.
Urusan penentuan awal Ramadhan, memecah publik menjadi dua, dan memisahkan dua kubu menjadi kampret dan ceboong. Ketika Dokter Terwan dipecat oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia) isu yang muncul adalah isu kaceb. Ketika Mendikbud Nadiem Makarim menghilangkan madrasah dari sistem pendidikan nasional, isu yang muncul adalah isu kaceb. Jenderal Andika Perkasa membolehkan keturunan PKI mendaftar menjadi tentara, isu yang muncul adalah isu kaceb.
Penulis Amerika, Ben Saphiro dalam ‘’The Right Side of History’’ (2020) memberikan gambaran mengenai bangsa yang terbelah, satu berada pada sisi yang salah, satunya berada pada sisi yang benar. Dua kekuatan itu akan senantiasa terlibat dalam pertempuran memperebutkan pengaruh.
Sisi kanan adalah sisi konservatif yang diasosiasikan dengan kelompok politik yang bersemangatkan keagamaan dan kolektivitas. Sisi kiri mewakili kalangan liberal yang lebih dekat dengan individualisme dan sekularisme.
BACA JUGA: PKI dan TNI
Saphiro, seorang Yahudi ortodoks melihat kelompok kanan berada pada sisi yang benar dalam sejarah, karena kelompok kanan memadukan akal (ilmu pengetahuan) dengan iman yang akan menghasilkan keseimbangan.n Kelompok kiri yang liberal, oleh Saphiro dianggap kehilangan keseimbangan karena terlalu menekankan pada kebebasan individual dan sekularisme sehingga mengabaikan peran agama.
Manusia akan sempurna jika bisa memadukan kekuatan akal dan iman menjadi satu. Sebaliknya akan menjadi timpang dan tidak sempurna jika hanya mengedepankan akal saja tanpa iman, atau iman saja tanpa akal.
Saphiro yang merujuk pada tradisi Judeo-Kristiani berpendapat bahwa sebuah bangsa berada pada sisi yang benar jika bisa memadukukan “kekuatan Athena” dengan kekuatan “Jerusalem”. Kekuatan Athena (Yunani) adalah kekuatan akal dan ilmu pengetahuan, sedangkan kekuatan Jerusalem adalah kekuatan iman.
BACA JUGA: Jokowi, Uraa..
Jauh sebelum muncul gagasan Saphiro, almarhum B.J Habibie pernah mengajukan konsep yang sama dengan menyebut ungkapan “Otak Jerman Hati Mekah”. Perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi iman, dan takwa. Imtek dan imtak.
Pendidikan Indonesia harus membentuk manusia yang seimbang dalam imtek dan imtak. Manusia yang mempunyai otak ilmu pengetahuan sekelas “otak Jerman” Habibie, tapi tetap dibarengi hati penuh takwa yang selalu bertaut ke Mekah sebagai kiblat iman.
Ancaman terhadap konsep imtek dan imtak muncul dari pendidikan liberal yang diperkenalkan Nadiem Makarim yang mengagungkan individualisme dan sekularisme. Pendidikan liberal menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan tanpa harus dibarengi dengan agama.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi