Kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi iman akan menjadikan manusia memainkan peran Tuhan (playing god). Kemajuan ilmu pengetahuan bisa memperpanjang umur manusia. Kemajuan ilmu genetika bisa menciptakan manusia yang lebih cerdas dan terhindar dari penyakit. Kemajuan ilmu pengetahuan bisa menciptakan manusia super ala Superman.
Ilmu pengetahuan sudah bisa menciptakan kloning domba yang bisa berkembang menjadi cloning manusia.
Selama beberapa tahun terakhur isu-isu besar yang muncul selalu memecah masyarakat menjadi dua kelompok yang seolah-olah berhadapan diametral. Rekonsiliasi politik pasca pilpres 2019 ternyata hanya rekonsiliasi semu.
BACA JUGA: Madrasah
Bangsa Indonesia sudah mempunya “common denomination” pijakan yang sama untuk melangkah bersama. Pijakan bersama itu adalah Pancasila yang sudah menjadi konsensus bersama para founding parents, pendiri bangsa.
Tetapi alih-alih menjadikan Pancasila sebagai “common denomination”, rezim sekarang ingin memonopoli tafsir dan interpretasi terhadap Pancasila dengan mendaku sebagai yang paling Pancasila, seolah-olah Pancasila barang warisan yang bisa dikantongi sendiri.
Rezim ini mengidap “historical myopia”, rabun sejarah, tak punya pandangan jauh ke depan dan tidak punya kaca spion untuk menoleh ke belakang.
Upaya memperpanjang masa jabatan kepresidenan menjadi tiga periode adalah contoh rabun sejarah yang nyata. Godaan memperpanjang kekuasaan dengan memperkosa konstitusi adalah kesalahan sejarah yang dilakukan oleh Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto yang berakibat sama-sama fatal. Sejarah membuktikan bahwa ternyata bukan hanya keledai yang terperosok lubang yang sama berkali-kali.
BACA JUGA: Demo Masak
Indonesia beruntung mendapat berkah Pancasila yang dirumuskan para pendiri bangsa. Pancasila akan menempatkan bangsa Indonesia pada sisi yang benar dalam sejarah. Pancasila menjadi pemandu bagi ‘’moral purpose’’ tujuan moral pembangunan bangsa yang didasari nilai-nilai agama.
Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa harus menjadi ruh utama arah perjalanan bangsa, dan menjadi payung bagi empat sila lainnya. Biarkan Pancasila utuh dalam kesatuan tidak perlu diperas jadi Trisila apalagi Ekasila dengan mengaburkan peran Ketuhanan Yang Maha Esa.
Indonesia sedang menghadapi perubahan besar karena perubahan konstelasi dunia pasca-Covid-19 dan ancaman perang Rusia-Ukraina yang belum ketahuan akan berakhir seperti apa.
Jeffrey D. Sachs menyebutkan tiga modal utama yang bisa menjadi senjata bangsa-bangsa untuk bisa “survive and strive”, bertahan dan berkembang, yaitu modal geografi, modal teknologi, dan modal institusi. Ketiga modal itu akan menjadi mesin kemajuan di tangan pemimpin yang visioner dan punya wawasan. Sebaliknya, modal besar itu akan menjadi bencana di tangan pemimpin yang picik dan kerdil.
BACA JUGA: Dea OnlyFans
Letak geografis sebuah negara adalah berkah dari Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Negara-negara yang beriklim sedang (temperate) yang menyebar di sekujur Garis Khattul Istiwa’ (Katulistiwa) punya potensi untuk lebih makmur dibanding negara-negara yang jauh di atas garis yang membuatnya gersang dan di bawah garis yang membuatnya beku.
Indonesia mendapatkan berkah modal yang sangat berharga. Jamrud Katulistiwa, jaminan kemakmuran. Tongkat dan batu jadi tanaman di Nusantara, kata Koes Plus. Tapi di negeri Indonesia tongkat dipakai menggebuk buruh dan batu untuk melempari polisi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi