KEMAPALAN: Revolusi digital membawa dampak luas dalam kehidupan sosial masyarakat. Layanan digital membuat hidup semakin mudah dan nyaman. Tapi, di sisi lain layanan digital membuat banyak orang geregetan karena pengaruh negatif yang makin sulit dibendung. Kejahatan dan kekerasan digital terjadi setiap hari. Konten mesum dan pornografi bermunculan setiap saat.
Revolusi digital memungkinkan seseorang untuk menjadi apa saja. Orang bisa menjadi kaya mendadak melalui pesugihan digital yang melahirkan para crazy rich. Dunia digital memunculkan ‘’self-made celebrity’’, selebritas buatan sendiri. Cukup dengan jeprat-jepret foto lalu mengunggah di Instagram orang bisa kondang mendadak dan mendapat julukan selebritas Instagram alias selebgram.
Seorang mahasiswa bernama Gusti Ayu Dewanti asal Nganjuk Jawa Timur yang kemudian berkuliah di Malang bermimpi menjadi selebriti digital dengan cara pintas. Tidak ada keterampilan khusus yang dimilikinya. Ia hanya berbekal wajah dan tubuh untuk dipertontonkan.
Tapi, itu lebih dari cukup untuk menjadi modal kosohoran di dunia digital. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai kesohoran di dunia hiburan. Bahkan, Andy Warholl pada 1970-an sudah terkenal dengan mantranya ‘’Fifteen Minutes of Fame’’, lima belas menit kesohoran.
BACA JUGA: ‘’Terkun’’ Terawan
Bak seorang dukun ahli ramal top Warholl–seniman lukis pencetus gerakan ‘’pop art’’ yang memperkenalkan gaya lukis kontemporer nano-nano penuh warna–membuat pernujuman, ‘’In the future everyone will be wolrd-famous ini 15 minutes’’, di masa depan nanti setiap orang bisa saja menjadi terkenal di seluruh dunia dalam 15 menit.
Fenomena itu sering dipakai untuk merujuk pada manusia yang berkutat pada dunia hiburan, showbiz, dan dunia entertainmen, di area budaya pop di panggung televisi atau media massa. Dunia yang serba pintas dan instan menyebabkan setiap orang punya kesempatan untuk menjadi selebritas hanya dalam tempo seperempat jam.
Ungkapan itu tidak orisinal dari Warholl. Dia mengadopsinya dari pepatah kuno versi Inggris yang sudah dikenal di era Elizabethan ‘’nine day’s wonder’’ atau keajaiban sembilan hari. Dalam sembilan hari semua keajaiban mungkin saja terjadi. Warholl mengadopsinya dan mengubah durasi menjadi lebih pendek lagi, hanya 15 menit.
BACA JUGA: Jokowi dan Alim Markus
Zaman itu belum ada internet. Tapi, seniman genius dan nyentrik seperti Warholl bisa melihat masa depan seperti seorang yang sakti ‘’weruh sak durunge winarah’’, mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Fenomena yang dinujumkan itu menjadi kenyataan setengah abad kemudian.
Revolusi digital memungkinkan pernujuman Warholl itu menjadi kenyataan. Jauh sebelum itupun kesohoran bisa dicapai dengan jalan pintas. Seseorang bisa membeli kesohoran dengan uang. Ia memperolehnya dengan cepat, tetapi kesohoran itu akan hilang dalam waktu singkat juga.
Keterkenalan bisa dibeli. Itulah kenyataannya. Banyak orang yang merasa bisa membeli dan memperdagangkan masa depan. Banyak yang menyediakan berbagai kontes, mulai dari lomba menyanyi, pamer kecantikan, sampai pamer banyolan, yang bisa menjadi tangga ajaib untuk meloncat menuju keterkenalan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi