Modal teknologi adalah sebuah niscaya. Di dunia global penguasaan teknologi akan menjadi faktor pembeda. Akses terhadap teknologi terbuka bagi bangsa mana saja selama strategi pendidikannya bisa menjawab tantangan globalisasi, dan bisa menempatkan diri pada sisi sejarah yang benar. Teknologi adalah ciptaan manusia yang bisa diakses manusia mana saja yang mumpuni.
Faktor ketiga adalah institusi, dalam hal ini adalah pemerintahan. Lokasi geografis adalah anugerah dari Tuhan, sedangkan teknologi dan institusi adalah buatan manusia. Banyak negara-negara kaya sumber daya alam terkena kutukan “resource curse”, alih-alih makmur malah menjadi gembel karena gagal mengelola kekayaan alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan.
BACA JUGA: Jokowi dan Alim Markus
Bangsa Indonesia dikarunian kelapa sawit yang berlimpah, minyak yang limpah ruah, dan batu bara yang murah. Tapi, semuanya tidak menjadi berkah tapi malah menjadi kutukan. Minyak goreng langka, harga bahan bakar minyak naik, harga-harga lainnya melonjak.
Institusi pemerintahan yang tidak kompeten, dan hanya sibuk memikirkan perpanjang kekuasaan, akan membuat sebuah bangsa yang secara geografis potensial makmur menjadi terpuruk. Bangsa ini hidup sebagai kuli di tengah bangsa-bangsa, dan menjadi bangsa yang dipenuhi para kuli. “Coolies among nations, nation among coolies,” kata Bung Karno.
Bangsa Eropa dan Amerika yang berada pada negara empat musim ditakdirkan menjadi bangsa yang kaya dan maju. Itu bukan takdir, tapi ikhtiar. Indonesia pun bisa maju karena ikhtiar sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh bangsa-bangsa yang maju.
Anderson dan Acemoglu menguliknya dalam “Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty”. Dia membuktikan bahwa negara menjadi maju karena institusi pemerintahannya ‘inclusive” melibatkan rakyat dalam berbagai keputusan strategis. Sebaliknya, institusi negara yang “extractive”, meninggalkan dan mengakali rakyat, akan menjadi negara miskin dan terbelakang.
BACA JUGA: ‘’Terkun’’ Terawan
Kebijakan extractive adalah kebijakan yang mengabaikan rakyat dengan memanipulasi suara rakyat dengan berbagai cara. Diciptakan big data yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Tujuannya adalah mengarang dukungan rakyat ‘’manufacturing consent’’ untuk memperpanjang kekuasaan secara tidak sah.
Indonesia sedang berada pada zaman persimpangan yang sangat krusial. Indonesia punya potensi besar untuk menjadi bangsa besar di tengah tantangan global yang besar.
Tetapi, seperti kata Bung Hatta yang mengutip Schiller, ‘’Sebuah epos besar dilahirkan abad ini, tetapi momen besar itu menemui manusia kerdil’’. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi