Sejarah Panjang Penistaan Agama

waktu baca 15 menit
Ilustrasi: St Stephen, martir Kristen pertama, dinyatakan bersalah atas penistaan oleh Sanhedrin, dewan tertinggi orang Yahudi dan dirajam sampai mati. Kisah 7.57. (foto: ist)

KEMPALAN: Penistaan atau penghinaan terhadap suatu agama atau keyakinan akhir-akhir ini menjadi sebuah tren, lebih khusus menjelang pesta politik pemilihan kepala negara. Meski masih jauh, tapi gaungnya sudah terasa.

Di era modern ini, penistaan atau blasphemy dan defamation (defamasi) terhadap agama merupakan kelanjutan yang berputar-putar antara pihak yang pro dan kontra dari dulu hingga sekarang. Agama terus menjadi komoditas seksi yang laku diperdagangkan, baik untuk menjunjung ataupun menjatuhkan.

Namun, dengan dalih penistaan agama sesorang bisa dikucilkan, dijatuhi hukuman, bahkan hukuman mati.

Secara  praktik penistaan agama memliki sejarah yang panjang. Defamasi agama atau keyakinan telah berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu.  Dalam sejarah, defamasi agama telah dimulai dan berasal dari Yunani pada tahun 325 M. Di masa ini seseorang dinilai menista jika menghujat dewa/dewi yang diyakini oleh masyarakat Yunani Kuno. Namun konsep penistaan ini terus mengalami evolusi seiring situasi dan kondisi dari yang local hingga global.

Dalam Bahasa Yunai, Blasphemy berasal dari kata blasphemein, dalam Bahasa Inggris blasphemen (zaman pertengahan), Istilah Prancis Kuno blasfemer, dan Bahasa Latin blasphemare, yang merupakan paduan dari kata blaptein (merusak) dan pheme (reputasi).

Blasphemy juga bisa diartikan sebagai defamation of the name of God, yang berarti penistaan nama Tuhan. Dalam arti luas, blasphemy dapat diartikan sebagai penghujatan terhadap hal-hal yang dianggap suci oleh suatu keyakinan agama. Bentuk blasphemy umumnya adalah perkataan atau tulisan yang menentang ketuhanan terhadap agama-agama yang mapan.

Dalam tradisi agama-agama Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam) dikenal berbagai bentuk larangan blasphemy tersebut.

Dalam Yahudi, blasphemy adalah menghina nama Tuhan atau mengucapkan hal-hal yang mengandung kebencian terhadap Tuhan. Dalam Kristen, Kitab Perjanjian Baru, dikatakan menista roh kudus adalah dosa yang tak diampuni dan pengingkaran terhadap Trinitas juga digolongkan sebagai blasphemy. Dalam Kitab perjanjian lama, pelaku blasphemy diancam hukuman mati, dengan cara dilempari batu. Dalam Islam, blasphemy adalah menghina Tuhan, Nabi Muhammad dan nabi-nabi yang diakui dalam al-Qur’an serta menghina al-Qur’an itu sendiri. Budha dan Hindu tak mengenal adanya blasphemy, paling tidak secara resmi.

Dalam konteks keyakinan agama Ibrahimi, sikap defamasi terhadap agama telah ada seiring dengan eksistensi manusia yang dianggap pesaing oleh iblis, yakni ketika Adam dan Hawa masih ada di surga. Iblis diperintah Allah untuk bersujud (hormat) di hadapan Adam, Iblis menolak karena merasa bahan bakunya yang terbuat dari api lebih baik dari Adam yang terbuat dari tanah.

Demikian halnya ketika Adam dan Hawa telah berada di Bumi.

Putra mereka, Qabil, membangkang perintah sang ayah, Sang Nabi Adam AS, dan akhirnya membunuh saudaranya Habil, menjadi pembunuhan pertama di dunia, lantaran kurban persembahannya tidak diterima oleh Allah. Qabil merasa dengki dengan Habil karena ketidaktulusannya dengan mempersembahkan hasil pertaniannya yang sudah agak busuk.

Kisah kehidupan para nabi sejak Nabi Adam AS hingga setelahnya, Idris AS, Nuh AS, Hud, Ibrahim AS hingga Musa AS, Isa AS, dan Muhammad SAW penuh dengan kisah penistaan terhadap agama. Agama adalah sistem kepeercayaan dan aturan hidup yang dibawa para Nabi kepada manusia dari Tuhannya.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, penistaan agama dimulai oleh kelompok yang menolak membayar zakat. Bagi Khalifah saat itu, seorang muslim tidak boleh pilih-pilih ayat,  hanya mengambil yang disukai, dan mengabaikan ajaran yang tidak disetujui. Ketaatan harus menyeluruh. Karenanya mereka yang menolak sebagian perintah agama harus ditindak.

Menentang ajaran agama, meragukan, atau sekadar mempertanyakan, sebenarnya merupakan bagian penistaan agama dalam arti luas.

Di masa lalu, kelompok pemimpin agama yang mempunyai kekuasaan cukup besar nyaris sepenuhnya berhak untuk menentukan siapa yang melakukan penistaan terhadap agama dan layak dihukum berat.

Tercatat dalam sejarah, di abad pertengahan banyak ilmuwan  dihukum mati atau dibakar hidup-hidup  karena dianggap sudah menistakan agama. Padahal mereka hanya  mengungkapkan bahwa bumi tidak datar dan bukan merupakan pusat rotasi tata surya. Sesuatu yang bertentangan dengan paham agama dominan saat itu.

Di masa lampau pada suku-suku pedalaman di berbagai pelosok dunia, juga terjadi penduduk yang dihukum mati, mengalami pengusiran, atau didenda karena dianggap melanggar keyakinan ataupun menghina apa-apa yang dinilai suci oleh Kawasan setempat.

Next: Penistaan Agama di Barat: Kristen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *