OLEH: Ibu DR. Hj. Muhmidaty Ya’cub
KEMPALAN: Wanita di dunia akan berkata kepada bidadari di surga, ‘Kami mengerjakan shalat, berpuasa, dan bersedekah, sedangkan kalian tidak melakukannya. Kami Wanita di dunia, akan mengalahkan bidadari surga.’ (Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a). Wanita seperti ini memang dirindukan surga karena sikapnya selama di dunia. Seperti sabda Rasulullah SAW tentang sikap wanita yang diperbolehkan masuk surga melalui pintu manapun. “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dari berbuat zina, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepada wanita tersebut, ‘Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau sukai’”. HR. Ahmad.
Allah SWT menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang patuh terhadap perintah-Nya. Siapa-siapa yang akan masuk ke surga semuanya adalah rahasia Allah. Rajin ibadah juga bukan jaminan bisa masuk surga, tapi mempertahankan keimanan adalah syarat mutlak untuk ke surga. Selain itu, Wanita shalihah yang dirindukan surga adalah yang mampu mendidik anak perempuannya dengan baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
BACA JUGA: Kebahagiaan dan Kesengsaraan
Rasulullah SAW juga pernah berkata bahwa wanita penghuni surga adalah wanita yang selalu bisa meminta ridha suaminya. Ridha suami atas isteri merupakan salah satu cara menggapai ridha Allah dan ganjarannya adalah surga. Ridha adalah mempercayai dengan sungguh-sungguh bahwa apa yang menimpa kita baik suka maupun duka adalah yang terbaik menurut Allah. Ridha suami terhadap isteri dihitung setelah ridha Allah dan Rasul-Nya. Itu artinya Allah akan meridhai isteri jika suaminya sudah meridhai terlebih dahulu. Hak seorang suami terhadap isteri berada di atas hak manusia, termasuk hak ke dua orang tua. Selama suami tidak meminta sesuatu yang menyimpang dari perintah Allah SWT, maka isteri wajib mentaatinya.
Wanita yang dirindukan surga adalah yang mampu menjaga kemaluannya. Allah SWT memerintahkan Nabi dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Pada awalnya, perintah itu tertuju pada pandangan. Lalu, Allah perintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan sebelum menjaga kemaluannya karena semua yang terjadi itu bermula dari pandangan mata. Kemudian terlintas dalam pikiran lalu menjadi Langkah dan selanjutnya terjadi dosa ataupun kesalahan.
Perintah menjaga pandangan yang dimaksud dalam ajaran Islam adalah menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar), yang diiringi dengan perintah memelihara kemaluan (hifzhul farj), sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Nur ayat 30-31. Menurut Al-Qardhawi dalam al-Halal wal Haram, ‘menundukkan pandangan’ adalah menjaga pandangan, tidak dilepaskan/diarahkan begitu saja tanpa kendali (dengan syahwat), sehingga dapat memicu pelakunya, laki-laki atau perempuan untuk berpikiran dan bertindak asusila.
BACA JUGA: Pengampunan Bagi yang Bertaubat
Lebih konkrit, al-Qardhawi menegaskan bahwa pandangan yang terjaga, adalah apabila memandang kepada lawan jenis tidak mengamati secara intens keelokannya dan tidak lama menoleh kepadanya, serta tidak melekatkan pandangan kepadanya kepada sesuatu yang dilihatnya.
Bagi siapa saja yang selalu beramal baik, manaati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, niscaya pintu surga terbuka lebar untuknya. Bagi wanita, Allah SWT telah memberikan banyak keistimewaan, salah satunya seperti memberikan jaminan untuk masuk ke pintu surga manapun yang ia kehendaki. Islam mengajarkan agar ibadah senantiasa dikerjakan dalam setiap situasi dan kondisi. Laki-laki maupun wanita memiliki porsi yang sama untuk beribadah kepada-Nya. Namun, dalam kondisi tertentu ada amalan yang secara khusus diperuntukkan bagi laki-laki, dan adapula ibadah yang secara khusus diperuntukkan bagi wanita.
Sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang shalihah. Ia menjadi penyejuk mata, selalu menyenangkan ketika di tatap berlama-lama. Tapi di kala lain, ia begitu meneduhkan hati yang gundah gulana, saat banyak masalah menyesaki dada. Ketaatan paling utama bagi seorang wanita, setelah Allah dan Rasul-Nya, adalah untuk suaminya. Allah SWT menyediakan pahala yang besar bagi seorang isteri yang selalu berusaha menyenangkan hati suaminya, meski hanya berupa ‘kiriman’ seulas senyuman. Maka berbahagialah, wahai para wanita yang dirindukan surga; para isteri shalihah, para ibu yang menjadi madrasah bagi anak-anaknya. (*)
Transkrip: Adib Muzammil

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi