Pada akhirnya, di mata orang-orang yang belum tercerahkan, persinggungan si orang bebas dengan dunia luar tidak ada gunanya. Boleh jadi ia akan dianggap sebagai orang linglung atau sakit jiwa. Alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih dia justru akan dibunuh oleh orang-orang gua.
Alegori gua merupakan salah satu bagian paling terkenal dalam sejarah filsafat barat. Plato menulis dalam bukunya yang terkenal ‘’Republik’’ berisi pelajaran dasar mengenai politik, demokrasi, kebebasan, dan kenegaraan. Dialog-dialog panjang dalam ‘’Republik’’ mendedah filosofi politik Plato mengenai prinsip-prinsip kewarganegaraan yang masih relevan dengan kondisi saat ini.
BACA JUGA: Halal
Di kehidupan modern saat ini alegori gua berubah wujud menjadi simulacra, sebuah kondisi di sebuah ruang yang penuh dengan simulasi atau reduplikasi suatu objek seperti produk barang, sehingga antara yang asli dengan yang kawe tidak dapat dibedakan. Bahkan akhirnya simulasi itu menghasilkan realitas tersendiri.
Pencitraan politik dibuat sebegitu teliti dan jelimet sehingga publik tidak bisa lagi membedakan mana yang akting dan mana yang nyata. Simulacra telah menjadikan akting dan nyata menjadi sama-sama nyata, tidak ada perbedaan sama sekali.
Publik yang berusaha keluar dari realitas semu terus-menerus terperangkap oleh kerangkeng dan rantai di dalam gua, sehingga mereka tidak bisa lagi tergerak. Para pundit dan ahli berbicara di media dengan berbuih-buih membela pencitraan itu.
BACA JUGA: Kemah Nusantara
Mereka lebih mirip kaum Sophis yang cerdik pandai dan piawai bersilat lidah, padahal menyesatkan. Para Sophis itu menjual kebenaran dan keahlian kepada siapapun yang mau membayarnya. Tidak ada pemihakan kepada kebenaran.
Eikasia, begitulah Plato menyebutnya. Sebuah pendapat tentang kenyataan yang disampaikan orang lain yang dinilai ahli, padahal pendapat pakar itu keliru atau menyesatkan karena di balik batu ada udang yang bersembunyi.
Para buzzer dan influencer memengaruhi opini publik sampai menjadi silau dan tidak mampu lagi melihat realitas yang sesungguhnya. Para ahli atau expert sudah mati, ‘’the death of expertise’’. Para profesor dan guru besar kalau suara dari buzzer dan influencer yang lebih dipercaya para manusia gua.
Plato mengingatkan agar kita berusaha menemukan kebenaran sejati, noesis, pengetahuan dari penglihatan jiwa bukan sekadar penampilan mata. Menemukan kebenaran yang sesungguhnya, tidak sekadar membebek dan menjadi Pak Turut yang sudah kehilangan daya kritis.
Kita hidup pada era manusia gua, dan para pakar kehilangan otoritasnya. Kebohongan sudah menjadi kebenaran karena propaganda, dan manusia gua hidup dalam situasi post-truth. Semua orang menjadi seolah-olah ahli dan kebenaran menjadi hampa.
Menteri Luhut Binsar Panjaitan mengklaim big data 120 juta suara yang menghendaki pemilu ditunda dan masa jabatan Jokowi diperpanjang. Banyak kalangan menyangsikan data itu. Luhut tidak mau membuka sumber data itu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi