OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: PDIP nampaknya menjadi partai politik yang punya kesempatan besar untuk mengajukan calonnya sendiri. Ada nama Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah dan ada Puan Maharani, Ketua DPR RI.
Lalu siapakah yang berpeluang untuk diajukan menjadi calon presiden atau wakil presiden diantara keduanya?
Dalam penentuan calon yang diajukan, PDIP mempunyai mekanisme dimana Ketua Umum Megawati sangat menentukan pilihan hasil akhir calon. Megawati banyak membuat pertimbangan dari berbagai pihak.
Sebagai seorang politisi senior yang sudah merasakan banyak asam garam, Megawati tentu punya naluri untuk mengajukan calon dan harus bisa menenangkan pertarungan Pilpres.
BACA JUGA: Ki Bedul Sakti: Anies Ditakuti Sekawanan Bangsa Jin
Meski PDIP mempunyai tiket untuk mengajukan calonnya sendiri, tapi akan sangat berat baginya harus berjuang sendirian untuk mengantarkan calonnya untuk menduduki kursi presiden maupun wakil presiden. Pilihan koalisi menjadi sebuah keniscayaan.
Nah, dari pilihan koalisi inilah akan ditentukan peluang Ganjar atau Puan yang akan diajukan sebagai pasangan dari calon lain yang akan diajak berkoalisi.
Ganjar dan Puan tentu punya kelebihan dan kekurangan, dari kelebihan dan kekurangan itu, siapakah yang layak diajukan dan bisa memenangkan Pilpres 2024 ?
BACA JUGA: Selebrasi Anies di Panggung IKN
Dalam berbagai survey memang nama Ganjar dan Puan selalu muncul bersama calon lain semisal Anies Baswedan, Prabowo, AHY, Eric Tohir, Sandiaga Uno dan lain-lain.
Kalau boleh dianalisa dari calon yang ada, nama-nama seperti Anies dan Prabowo, adalah nama yang merujuk pada hanya calon presiden. Nama Ganjar bisa dirujuk pada posisi Presiden maupun wapres, sedang nama Puan selama ini hanya santer dirujuk sebagai calon wapres.
Peluang menduetkan Ganjar – Puan tentu bisa menjadi pilihan, tapi itu akan menyulitkan PDIP. PDIP akan berjuang sendirian dan berpotensi akan menjadi musuh bersama.
Mengajukan Ganjar saja untuk dipasangkan dengan calon koalisi yang lain akan menjadi sejarah pengulangan Pilpres 2014, dimana saat itu Megawati sebagai calon yang disodorkan, namun karena alasan popularitas dan elektabilitas, Megawati akhirnya memberikan kesempatan kepada Jokowi. Sampai kemudian Jokowi terpilih menjadi presiden. Namun sayangnya ketika Jokowi menjadi presiden tak banyak hal yang bisa didapatkan oleh PDIP. Bahkan terkesan ada friksi di antara keduanya. Hal yang mencolok ketika PDIP hanya diberi jabatan menteri beberapa tidak sesuai dengan harapan Megawati.
Tentu saja Megawati tak akan mau mengulang lagi peristiwa 2014. Megawati tentu akan membuat banyak aturan dan komitmen yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ditugaskan.
Apalagi Megawati juga masih mempunyai kesepakatan dengan Prabowo di Batu Tulis.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi