Muncullah berbagai gerakan kebulatan tekad. Partai politik membuat kebulatan tekad, rakyat jelata membuat kebulatan tekad, organisasi massa dan keagamaan membuat kebulatan tekad. Setelah semua tekad menjadi bulat, Pak Harto pun tidak bisa menolak kehendak rakyat.
Itulah déjà vu. Dengan rekayasa kebulatan tekad akhirnya Pak Harto mulus kebablasan sampai 32 tahun, dan baru bisa berhenti karena chaos dan ontran-ontran Reformasi. Kebulatan tekad diplesetkan menjadi ‘’butek’’ alias keruh dalam bahasa Jawa.
Situasi politik menjadi keruh dan tidak bisa dikendalikan lagi. Orang-orang yang berteriak paling keras dalam ‘’butek’’ menjadi orang pertama yang melarikan diri meninggalkan Pak Harto yang terpepet. Itulah ‘’Butterfly Effect’’ dalam politik. Kepak sayap kupu-kupu yang melakukan kebulatan tekad akhirnya membawa ontran-ontran yang dahsyat.
Milan Kundera mengatakan, ‘’Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa’’. Muhammadiyah menjadi organisasi keagamaan yang kali ini tegas menolak untuk lupa.
Apakah penolakan Muhammadiyah itu ada hubungannya dengan peristiwa Banyuwangi? Kalau Anda percaya kepada Teori Chaos, maka jawabannya adalah positif. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi