MALANG-KEMPALAN: Setiap manusia mempunyai keinginan dan harapan untuk memiliki kehidupan yang bahagia, aman dan nyaman. Namun pada kenyataan dunia merupakan tempat kita mengahadapi berbagai permasalahan, yang tentunya kita sendirilah solusinya.
Kenyamanan, dan keamanan dalam hidup haruslah kita perjuangkan. Berbagai problematika yang senantiasa ada dalam kehidupan kita menjadi pemicu seperti bom api yang sewaktu-waktu akan meledak dan menimbulkan rasa sakit serta perlawanan atas rasa sakit yang dirasakan oleh umat manusia.
Bom molotov yang meledak itulah yang akan menimbulkan beberapa reaksi-reaksi terhadap masyarakat. Setiap individu dan kelompok akan memunculkan beberapa reaksi perlawanan atas nama perdamaian, kebebasan, keamanan, dan kenyamanan dalam hidup.
Reaksi perlawanan dapat muncul dimana saja di suatu institusi, lembaga, organisasi, di panggung megah, bahkan di jalanan. misalnya, aksi demonstrasi, forum diskusi, festival musik, dan tentunya gambar-gambar yang menghiasi setiap sudut-sudut kota.
Banyaknya kasus dan isu-isu sosial seperti pelecehan seksual, diskriminasi, korupsi, ketidak adilan hukum, perusakan lingkungan yang banyak terjadi setiap saat, terutama semakin menjamurnya isu-isu tersebut pada 2021.
Merangsang para pegiat seni mural dan graffiti menyuarakan aspirasinya, memberikan perlawanan melalui karya yang mereka coretkan di dinding-dinding trotoar jalan, di bawah kolong jembatan serta masih banyak tembok lainnya yang mereka coretkan gambar-gambar perlawanan.
Sebelum membahas bagaimana para pegiat seni mural dalam melakukan protes dan perlawanan di jalanan melalui seni jalanan yang mereka suguhkan. Kita sendiri perlu tau apa itu mural dan graffiti? Definisi mural sendiri menurut Susanto (2002, hal. 76) lukisan besar yang dibuat untuk mendukung ruang arsitektur.
Ruang arsitektur mengarah pada bangunan rumah atau gedung dan di dalam setiap bangunan tersebut terdapat dinding-dinding sebagai pembatas dan pelindung bangunan tersebut. Sehingga dapat ditinjau dari definisi tersebut dinding didalam bangunan tersebut sangat berkaitan dengan mural.
Dinding yang pada dasarnya yang pada dasarnya menjadi pembatas dan pelindung bangunan, namun pada seiring berjalannya waktu fungsi dinding tersebut berkembang menjadi medium untuk menghias bangunan tersebut.
Mural-mural yang tergambar di setiap sudut kota malang, ataupun kota-kota lainya dengan pesan-pesan yang dibawa didalam mural tersebut merupakan salah satu ruang publik untuk menyebarkan opini-opini kepada masyarakat.
Menurut Habbermas, semua wilayah atau ruang kehidupan sosial kita yang memungkinkan kita untuk membentuk opini publik bisa disebut “ruang publik” (Seidman, dalam Ibrahim 2004). Dinding-dinding jalan dijadikan media seperti kanvas oleh para pegiat seni ini untuk menyalurkan keresahan dan kekecewan dalam pikiran mereka.
Menurut Barker 2005 dalam buku Cultural Studies: Teori dan Praktik, Kreasi Wacana menyebutkan, ruang publik tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang juga merupakan masyarakat atau publik itu sendiri.
Sehingga ruang publik itu menjadi tempat berkumpulnya opini-opini publik yang berkaitan dengan isu sosial, politik, budaya dan ekonomi. ini suatu ruang yang menengahi masyarakat dengan negara di mana publik mengorganisasi dirinya dan di mana ‘opini publik’ terbentuk.
Seni mural dan graffiti tidak hanya menyajikan keindahan pada gambar melainkan dapat menjadikan sebuah media propaganda perlawanan terhadap beberapa isu sosial di negeri tercinta kita ini dengan cara mengekspresikanya melalui coretan yang sangat berani pada dinding-dinding jalan, kolong jembatan dan berbagai tempat yang dapat dilihat oleh khalayak ramai.
Namun tentulah kegiatan graffiti atau mural dapat memicu berbagai tanggapan dalam masyarakat. Tanggapan negatifpun tidak jarang diterima oleh para pegiat seni ini, walaupun mungkin niat dari mereka ingin menyampaikan hal baik terhadap masyarakat tapi tidak semua masyarakat memahami apa yang dimaksud para aktor seni mural dan graffiti ini.
Menurut saya pergerakan dan perlawanan melalui gambar ini akan cukup berkesan bagi para pelaku dan penikmatnya bahkan juga masyarakat awam. Mereka memang tidak berbicara seperti para orator demonstrasi yang mengekspresikan amarahnya melalui teriakan dengan gaya bahasa yang tegas dan berani, berbeda dengan para aktor seni mural dan graffiti ini mengekspresikan resah, amarah, dan kegundahannya melalui warna-warna yang mencolok pusat perhatian masyarakat umum agar dapat memahami maksud dari gambar atau tulisan pada tembok-tembok perlawanan.
Perlawanan dan sikap kritis terhadap berbagai isu sosial melalui seni graffiti dan mural adalah satu dari berbagai cara yang harus selalu diusahakan, agar masyarakat tetap sadar dan paham akan berbagai kejahatan serta ketidak adilan yang harusnya mereka lawan dan musnahkan.
Melalui graffiti dan mural mungkin setiap orang yang berjalan dan melihat gambar tersebut akan mulai memantikkan rasa keingintahuannya dengan apa yang dimaksudkan dalam gambar yang terpampang indah di atas tembok perlawanan. Ini mengakibatkan penikmat seni ini akan membuka mata hatinya dan pikirannya pula.
Graffiti dan mural bagi saya adalah bentuk ekspresi yang dituangkan diatas tembok, para seniman mural dan graffiti juga banyak yang mengangangkat isu politik, kemanusiaan, sosial, budaya dan masih banyak lainnya walaupun memang terkadang perjuangan mereka harus dibalas dengan ucapan serapah dari masyarakat bahkan kepalan tangan yang mengarah kewajah atau biaya keamanan, namun itu semua bukan masalah.
Perkembangan dan pertumbuhan beberapa komunitas graffiti dan mural yang semakin menjamur dalam mengangkat isu-isu sosial dan politik adalah bukti ada yang tidak beres dalam lingkungan sosial dan politik di negara kita, dalam hal ini graffiti dan mural menjadi media yang sangat masif dan efektif dilakukan.
Menurut saya akan lebih baik jika komunitas melakukan beberapa kajian mengenai isu sosial sebelum terjun dan menyuarakan aspirasi di tembok-tembok kota agar apa yang ingin mereka sampaikan terhadap masyarakat itu tersampaikan secara jelas.
Bekerja sama dengan masyarakat juga sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalah pahaman antara masyarakat dan para pegiat seni mural serta graffiti. Semoga pergerakan melalui graffiti dan mural tidak pernah padam dan semakin menjamur.
Wadah untuk terus berkembang dan bertumbuh juga sangat diperlukan agar terjadi sebuah gerakan yang masif dan memiliki nilai serta makna untuk melawan dan mengabarkan kepada masyarakat tentang beberapa isu sosial, politik serta budaya.
Selagi kita berjuang meraih merdeka dan bahagia walaupun dalam bahaya, maka akan tiba kebahagiaan itu, jadi tetap bergairahlah!!
somos libres siempre solamente por tu vas!! (Mochamad Alfaizi)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi