Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 04:53 WIB
Surabaya
--°C

Mengenang Margiono, Wartawan Gigih yang Pura-pura Gagu

Oleh: Atal S. Depari (Ketua Umum PWI Pusat)

KEMPALAN: Barangkali akan banyak yang bilang ini berlebihan. Tetapi saya teringatkan pada filsuf Jerman terkemuka, Arthur Schopenhauer, tatkala melihat almarhum Margiono setiap kali berpidato.

Filsuf Jerman itu berkata, rasa humor adalah satu-satunya kualitas ilahiah yang ada pada manusia. Kuotasi Schopenhauer itu melintas cepat di kepala saat melihat Margiono berpidato pada setiap kali perhelatan Hari Pers Nasional (HPN).

Di Padang, 2018, adalah HPN terakhir di tahun ujung kepengurusannya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat yang dipimpinnya dalam dua periode.

HPN yang bertajuk “Meminang Keindahan di Padang Kesejahteraan” itulah saya melihat Margiono membuktikan kembali kebenaran pernyataan Schopenhauer itu.

BACA JUGA  Menyoal Investasi Asing

Di hadapan Kepala Negara, Presiden Jokowi, dia santai saja bicara ngalor-ngidul, tapi jelas tertata. Margiono mengajak masyarakat Minang memilih Kembali Pak Jokowi yang sempat ngakak. Maklum, belakangan baru saya tahu, Margiono juga piawai menjadi seorang dalang wayang.

Saat bicara, lisan Margiono benar-benar memiliki lidah seorang dalang atau juru dongeng di masa lalu. Kalimat-kalimatnya runtut, segar, tak membosankan, karena sifat humoris yang dia miliki. Dia memiliki kosa kata berlimpah di samping segudang anekdot segar.

Sementara gayanya saat bicara tak kalah dengan para komika usia kaum milenial. Saya terbayang bagaimana gestur Margiono saat itu, manakala ia mengritik halus Presiden Jokowi langsung di hadapannya pada HPN 2016 di Lombok.

BACA JUGA  Selamatkan NU: Kembalikan Marwah dan Martabat NU dengan Rais Aam dan Ketum yang Punya Dua Belas Point Kriteria

“Hari ini nyata, Presiden nyata hadir,” celetuk Margiono disambut tepuk pengunjung. Sentilan halus Margiono terkait dengan absensi Presiden Jokowi setahun sebelumnya pada puncak acara HPN 2015 di Batam.

Sekali lagi benarlah Schopenhauer,”Rasa humor adalah satu-satunya kualitas ilahiah yang ada pada manusia.” Dengan rasa humor itu, Margiono bisa mengubah suasana. Dari yang harusnya kental dan jumud, menjadi cair karena humor yang dibalutkan bungkus kritik. Setitik kecil laiknya sifat ilahiah, yakni mengubah dan mencipta, dimungkinkan karena humor yang dimilikinya.

Sifat humoris itu menjadikan Margiono selalu berusaha memperlakukan masalah sebesar dan serumit apapun sebagai masalah yang ringan dan bisa diatasi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.