Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 06:10 WIB
Surabaya
--°C

Mengenang Margiono, Wartawan Gigih yang Pura-pura Gagu

Dia pernah bercerita kepada saya satu hal yang menurutnya tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Tahun 90-an, Margiono pernah beberapa bulan tinggal di New York, untuk program journalists exchange.

Menurutnya, masa-masa itu sedikit sulit. Kemampuan bahasa Inggrisnya, menurut dia, terbatas. “Saya sampai ikut kursus selama di New York itu,” tuturnya.

Tapi ya… bukan Margiono—tepatnya bukan wartawan—kalau kendala bahasa saja, itu pun mungkin hanya sebatas urusan pembicaraan aktif, sudah mengandaskan dirinya. Tahu apa yang dia lakukan?

Sekitar enam bulan Margiono berpura-pura gagu. Saya tidak percaya.  “Gagu.aah…uuh…ahh..uhh..begitu?” tanya saya, penasaran.  “Ya, begitu,” jawabnya, mantap.

Lalu bagaimana dia menulis laporan ke Jawa Pos di Indonesia? “Ya, saya sih mengerti apa yang jadi perbincangan, siapa bilang apa. Yang nggak lancar kan hanya bertanya. Daripada banyak tanya, sekalian saja pura-pura gagu.”

BACA JUGA  Mundur Selangkah, Maju Seribu Langkah

Berpura-pura gagu, menurutnya, malah paling efektif. Setiap kali ada antrean, Margiono langsung diperkenankan tampil ke depan. “Sebagai orang gagu, saya selalu mendapatkan prioritas. Apa-apa selalu kita duluan, termasuk kalau jamuan makan malam,” kata dia, dengan gaya santai saja. Woles kalau kata anak milenial.

Tapi jangan pernah berpikir Margiono jenis wartawan cemen yang hanya bisa bergabung secara embedded, ikut rombongan kementerian.  Sebelum menjadi Ketua Umum PWI Pusat, nama dan reputasi Margiono sudah melambung. Dia dikenal sebagai wartawan yang pemberani.

Di awal-awal reformasi, salah satu media yang dipimpinnya saat itu, Majalah “Detektif dan Romantika”, belakangan hanya disebut “DR”, pernah bikin geger Indonesia. Sampul depannya menampilkan Presiden Soeharto dalam bingkai kartu King terbalik-balik.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

Mudah diprediksi, DR kena bredel, menyusul Detik, TEMPO, dan Editor yang dibredel pada tahun-tahun sebelumnya, 1994. Saat itu Margiono juga dapat sanksi dari organisasi PWI. Tapi Margiono menyikapinya woles saja.

Era Reformasi tak membuatnya kehilangan rasa berani. Di kurun itu, awal 2000-an, harian “Rakyat Merdeka” yang dipimpinnya setiap hari keluar dengan tajuk-tajuk sensitif dan berani. Selalu menyerempet-nyerempet bahaya alias vivere pericoloso terhadap kekuasaan.

“Kalau di era ini kita tidak berteriak keras, tidak ada yang mau peduli aspirasi rakyat,” katanya, beralasan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.