Sabtu, 18 April 2026, pukul : 16:29 WIB
Surabaya
--°C

Trowulan Menunggu Anies

Oleh: Isa Ansori (Kolomnis)

KEMPALAN: Trowulan dengan berbagai peninggalan sejarah di sekitarnya memiliki hierarki paling kuat sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit. Situs Trowulan yang berada di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur menjadi salah satu bukti kuat bahwa daerah itu sempat menjadi pusat pemerintahan Majapahit. Sejarah juga menyatakan bahwa dari Trowulanlah, semangat menyatukan nusantara pernah ditegaskan.

Sebagai sebuah daerah yang banyak menyimpan cerita sejarah kejayaan kerajaan Majapahit, Trowulan tentu menjadi simbol keragaman dan kebudayaan, sehingga tak heran sampai saat ini, Trowulan masih menyimpan semangat keragaman budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Semangat merenda persatuan dan kesatuan harus menjadi jiwa bagi siapapun yang akan memimpin Indonesia kelak. Di tengah bangsa yang tercabik rasa persatuannya, kehilangan rasa empatinya, mahalnya keadilan bagi sebagian masyarakat, Indonesia masih belum kehilangan optimismenya untuk merebutnya kembali.

BACA JUGA: Anies Tak Bisa Dibendung Lagi

Adalah Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies adalah pribadi yang meski kelihatan selalu tersenyum, bukanlah sosok yang lemah, Anies adalah gambaran sosok yang santun terhadap siapapun tapi tegas terhadap hal-hal yang melanggar prinsip kemanusiaan. Anies sangat tegas kepada apapun yang dianggap melukai keadilan dan kemanusiaan. Anies tak bisa berkompromi dengan hal hal yang melanggar norma-norma ke – Indonesiaan, norma keadilan, norma persatuan dan norma ketuhanan yang tertulis dalam Pancasila. Anies sudah membuktikan semua saat ini ketika memimpin Jakarta.

Anies kini telah menjelma menjadi simbol persatuan, Anies kini telah menjadi simbol keadilan dan kini Anies juga telah menegaskan sebagai simbol yang mampu menjahit perbedaan ditengah keragaman kebudayaan Indonesia. Nampaknya apa yang dilakukan oleh Anies tidak terlepas dari sejarah panjang genetika Anies yang dilakukan oleh sang kakek Abdul Rahman Baswedan.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Hub De Jong ( 2004 ), Institute for Cultural and Anthropology, Radboude University Nijmegen, tentang Abdul Rahman Baswedan and The Emancipation of The Hadramits in Indonesia, disebutkan:
The journalist and politician Abdul Rahman Baswedan has played a prominent role in
the emancipation of the Indonesian Hadhramis and in the integration of the Hadhrami
minority into the wider Indonesian society.

During the early decades of the twentieth century, the comparatively small, and for outsiders relatively closed, community was in a constant state of dissension and confusion.

It was divided by tensions that can be reduced to differences between the Hadhrami culture and the Indonesian cultures, and between loyalty to Hadhramaut, the region of their origin, and the country in which they were looking for a livelihood.

It was only in the years leading up to World War II that the idea
of being an Indonesian gained significance in these circles, not least of all thanks to Baswedan’s efforts in this respect.

This article examines Baswedan’s childhood and school
years in an Arab quarter, his journalistic training and political maturation, and his gradual realization that he belonged to a community that had no perception of its future identity. His “coming out” as an Indonesian; and his activities during the nationalist period,
the Japanese occupation, and the years after independence in striving to break down the
relative isolation of his Hadhrami compatriots will also be analyzed. Baswedan’s life and
career form a unique entry in the history of the problems that the Hadhrami community
has experienced, both in the Dutch East Indies and in Indonesia.

Dari sang kakek, Abdul Rahman Baswedan, Anies mewarisi semangat memperjuangkan persamaan dan keadilan, dan itu menjadi cita-cita luhur bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Jalan Lempang Anies Menuju Istana

Sebagai masyarakat yang rindu akan hadirnya pemimpin yang mampu merenda persatuan dan kesatuan Indonesia di tengah mengerasnya upaya-upaya memecah belah bangsa, tentu semua berharap suatu saat Anies bisa menegaskan komitmen ke Indonesiaannya.

Trowulan sebagai simbol keragaman budaya tentu akan menjadi monumen bersejarah dan tempat yang tepat bagi Anies untuk meneguhkan komitmennya. Komitmen tentang persatuan, keadilan dan komitmen menghargai perbedaan dan keragaman untuk menjadi kekayaan budaya bangsa. (*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.