Kholid A.Harras
Mahasiswa Program doktoral Linguistik Pascasarjana UPI
KEMPALAN: Salah satu larangan yang harus dipatuhi oleh orang yang berpuasa antara lain berkata dusta, menggunjing, berbicara kotor atau menghina. Larangan lainnya, berbantahan mengenai perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya, apalagi hingga diiringi kemarahan yang dapat menimbulkan perselisihan.
Sekiranya ada yang mengajak melakukan hal-hal tersebut, “Janganlah dilayani atau tinggalkan mereka”. Katakan kepadanya, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Berbagai larangan di atas, tujuanya agar ibadah puasa seorang muslim tidak hampa atau sia-sia. Atau sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadist, agar nilai ibadah puasanya “tidak hanya sekedar mendapatkan rasa lapar dan dahaga belaka”.
Demikianlah, salah satu hikmah yang bisa dipetik dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadan dalam hubungannya dengan pendidikan berbahasa. Puasa Ramadhan sesungguhnya merupakan madrasah yang akan mentarbiyyah para pelakunya. Bukan hanya agar nantinya mereka dapat berbahasa dengan baik dan benar, tetapi juga berbahasa secara santun serta penuh etika dan tanggungjawab, baik lisan maupun tulisan. Dan perkara tersebut menurut penulis merupakan salah satu kompetensi yang kini mulai terkikis pada sebagian tokoh dan pemimpin bangsa ini.
Seperti kita mafhum, fungsi bahasa bagi manusia bukan hanya sebatas alat penyampai pesan semata. Bahasa juga merupakan alat berpikir, bernalar, berasa, dan bahkan alat berbudaya. Hal itu terkandung makna, bahasa yang digunakan oleh seseorang sesungguhnya dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengukur sejauh mana tingkat kecendekiaan, kepiawaian, serta keberadaban dari para penggunanya.
Dalam tradisi Melayu hal yang seperti itu diwadahi lewat sebuah ungkapan yang sangat masyhur: “Bahasa menunjukkan bangsa”. Jadi dalam bahasa Melayu dan juga bahasa-bahasa di Nusantara lainnya, cakupan medan semantik yang terkandung dari kata ‘bahasa’ atau ‘basa’ (dalam bahasa Sunda) atau ‘boso’ (dalam bahasa Jawa) tidak sama persis dengan kata language dalam bahasa Inggris. Cakupan medan semantik dari kata ‘bahasa’ mengandung makna bahasa yang sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaannya (the proper conduct of language usage), baik berdasarkan kaidah kebenaran (correctness) maupun kecocokannya (appropriacy).
Dalam masyarakat Jawa…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi