Spekulan Abadi
Filsuf masa kini, pekerjaannya adalah menulis konsep dan beraksi. Inilah harapan George Soros pada masa tuanya: menuntaskan oeuvre-nya dan menindaklanjuti dalam tindakan nyata: mewujudkan open society. Namun open society ini bukanlah pemikirannya sendiri, tetapi ia jadikan kerangka paradigmanya.
Di usianya yang uzur, George Soros (91) telah memuncaki segala menara gading. Ia pun menuliskan pikirannya dan menjadi bagian bersama orang-orang mencoba membuat dunia ini lebih baik. Orang lazim menyebut George Soros sebagai seorang “manager keuangan yang berubah menjadi seorang filantropis.” Tetapi setelah publikasi buku The Age of Fallibility, dengan “kenakalan” di masa lalunya, ia berusaha menempatkan diri sebagai “filsuf.” Namun pada bukunya yang terakhir, The New Paradigm for Financial Markets (2000) ia menyadari dirinya telah gagal menjadi filsuf. Dan mendeklarasi diri sebagai spekulator yang sukses.
Soros pada masa senjanya, dalam The Age of Fallibility (2006), menggambarkan capaiannya: pertama, dia mengembangkan kerangka-kerja konseptual sebagai dasar memahami sejarah, yang lebih spesifik disebutnya berbagai situasi jauh-dari-kesetimbangan; kedua, dia telah mengukuhkan keyakinan etis dan politisnya; dan ketiga dia punya banyak sekali uang. Nah, dalam kondisi “tidak membutuhkan apa-apa,” ketika tidak ada lagi sesuatu untuk ditanyakan, ia memahami idea hidupnya.
Terlepas dari apapun, George Soros mengalami satu titik balik ketika menyadari pengetahuan manusia terhadap realitas tidaklah sempurna. Ini disadarinya dan dikembangkannya sebagai ajaran dari filosof Austria Karl Popper, khususnya pada konsep Open Society. Dengan pemikiran dan kekayaan yang dimilikinya, Soros mengabdikan sisa hidupnya demi terwujudnya masyarakat terbuka baik penyempurnaan secara konseptual dan juga praktikal dengan mendirikan Open Society Institute.
Next: Open Society

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi