Open Society
Soros berfilsafat dalam The Age of Fallibility: masyarkaat terbuka yang mengidealkan kondisi masyarakat dengan ketidaksempurnaan atas tafsir realitas dan senantiasa terbuka untuk perbaikan. Soros menggambarkan, rezim otoritarian selalu tidak mau mengakui adanya ketidaksempurnaan dan terus berusaha menunjukkan kesempurnaan sistem mereka.Usaha itu menciptakan hegemoni sehingga berimplikasi pada kebiasaan orang “merasa nyaman, feel good,” dan tidak mau menghadapi sebaliknya. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang terus bergerak, namun Soros membuktikan memang realitas hidup bukanlah sesuatu yang pasti.
Seolah menjadi sebuah diktum, bahwa kepastian merupakan kondisi yang tidak mungkin dijangkau. Dalam masyarakat tertutup selalu mendistorsi dan menyangkali realitas yang tidak sempurna. Saat ini, karena tak terbiasa dengan situasi ketidakpastian, pada masa transisi, seperti di Indonesia ini, banyak yang menginginkan kembali pada situasi yang pasti. Hidup memang lebih berat dalam kondisi tidak pasti, tetapi kita juga bermasalah dengan realitas yang terdistorsi. Namun ketidakpastian dan ketidaksempurnaan memberikan tantangan untuk maju, kreatif dan inovatif, serta melakukan perbaikan-perbaikan.
Soros memperkenalakan konsep refleksivitas untuk mengembangkan teori sejarahnya. Ini merupakan epistemologi (ilmu tentang pengetahuan) yang menjelaskan antara fakta, kebenaran dan realitas dalam proses pemahaman melalui mekanisme feedback. Menurutnya, fakta tidak selalu memberikan kriteria untuk menilai kebenaran suatu pernyataan. Dalam masalah politik persepsi partisipan membantu menentukan realitas. Di dalamnya terdapat mekanisme umpan balik antara pemikiran dan peristiwa. Dalam proses ini persepsi dapat mempengaruhi kejadian dimana kita turut berpartisipasi. Guna menemukan kebenaran, persepsi seluruh partisipan harus dipertimbangkan. Orang tidak bisa merasa benar sendiri. Hal itu bisa terjadi hanya pada masyarakat terbuka.
Soros mengaplikasikan teori reflektivitas itu untuk menciptakan sebuah skenario ketidakseimbangan atau boom-bust untuk pasar keuangan. Ini karena pada saat itulah semua model keseimbangan yang ia terima secara umum rontok. Ia memiliki spesialisasi dalam mendeteksi dan memainkan situasi jauh-dari-keseimbangan dengan hasil bagus. Hal inilah yang membawanya pada penerbitan buku pertamanya, The Alchemy of Finance (1987). Dia menjelaskan pendekatannya. Dia menyebutnya alkimia untuk menekankan bahwa teorinya tidak memenuhi berbagai persyaratan metode ilmiah yang berlaku.
Next: Amerika dan Kehancuran Peradaban

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi