Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 01:52 WIB
Surabaya
--°C

Imelda Ciptakan PPMS untuk Percepat Pertolongan Pertama pada Pasien

Wiwik mengaku bahwa dalam melakukan penelitian ini, tim Imelda menggunakan metode pengamatan secara langsung. Dengan melibatkan Rumah Sakit (RS) UMM sebagai mitra kerja, tim melakukan survei di lapangan guna mencari ide inovasi yang sesuai dengan tema IEEE SIGHT Funding, sebuah program pengabdian yang berhubungan dengan penanggulangan Covid-19. “Lalu, ide tersebut kami ajukan untuk diimplementasikan di ambulance milik RS UMM,” bebernya.

Setelah mendapat persetujuan dan pendanaan, tim Imelda mulai merakit PPMS dan melakukan uji simulasi, baik simulasi terbatas maupun simulasi di lapangan. “Saat pengujian, kami mendapat feedback yang positif, tim paramedis mengatakan bahwa alat ini sangat dibutuhkan sebab bentuknya yang portable dan multifungsi,” terang dosen yang menyelesaikan gelar S2-nya di Teknik Informatika ITS tersebut.

BACA JUGA  Siapa Doni Wijanarko

Setelah beberapa pengujian dan simulasi, sambungnya, PPMS siap beroperasi dan berhasil dihibahkan di RS UMM pada 13 Januari 2022 lalu. Selain itu, alat yang sedang dalam tahap proses untuk pengajuan hak cipta ini juga akan dibagikan ke dua tempat lainnya, yakni RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong dan Medical Center ITS.

Isi dari kotak PPMS milik tim Imelda. (Foto : ist)

“Namun, kegiatan hibah alat di dua tempat tersebut baru akan dilaksanakan satu hingga dua minggu ke depan,” tutur Wiwik.

Diakuinya, PPMS yang dibuat oleh tim Imelda pun masih terdapat kekurangan mengingat alat ini merupakan prototype seri pertama. Hal-hal yang perlu disoroti untuk pengembangan ke depan di antaranya adalah konektivitas terhadap internet yang masih terbatas, tambahan alat monitoring di UGD yang belum rampung didesain, hingga permintaan dari pihak rumah sakit atas alat monitoring pasien dengan merek tertentu.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Dirancang selama dua tahun sejak wabah Covid melanda, proyek ini dinilai Wiwik mengalami banyak kendala. Mulai dari terbatasnya jenis dan model alat monitoring akibat impor yang dibatasi hingga sulitnya teknis dalam pengambilan data alat monitoring karena tidak ada manual dan protokol resmi dari pabrikan. “Kami berharap dapat terus berpartisipasi dalam pengembangan alat di bidang medis yang tepat dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” tandasnya. (nani mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.