JAKARTA-KEMPALAN: Saat ini, tingkatan ekspor Indonesia sedang berada dalam keadaan tertinggi. Namun dari banyaknya ekspor tersebut, ekspor komoditas masih menguasai persentase besar dibandingkan dengan ekspor produk olahan.
Berdasarkan data dari OEC (Observatory of Economic Complex), total ekspor Indonesia mencapai 178 Miliar USD pada tahun 2020.
Dalam rinciannya, ekspor terbesar berasal dari minyak sawit yang menempati 10%.
Kemudian 8,78% merupakan ekspor arang briket dan disusul emas dengan angka 3,54%.
Secara total, diperkirakan ekspor komoditas Indonesia mencapai 45%, sedangkan ekspor produk olahan masih dibawah 20%.
Dengan adanya hal tersebut, Indonesia perlu meningkatkan ekspor produk olahan untuk tidak dapat sepenuhnya bergantung pada ekspor komoditas.
Hal tersebut dapat dilihat pada hasil penelitian terbaru dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) yang merekomendasikan upaya terstruktur untuk dapat menggeser olahan pangan sebagai andalan ekspor.
“Sekitar 45% ekspor Indonesia masih berbasis komoditas yang harganya fluktuatif dan sangat bergantungpada dinamika dunia. Ketergantungan pada komoditas menyebabkan kinerja perdagangan dipengaruhi oleh fluktuasi harga dunia” ucap Deasy Pane yang merupakan anggota senior CIPS.
Deasy juga menyebutkan bahwa konflik Rusia-Ukraina tidak memberikan pengaruh secara langsung pada ekspor Indonesia.
Namun, secara tidak langsung, konflik kedua negara tersebut memengaruhi pergerakan harga komoditas dunia—dan akhirnya akan berpengaruh ke Indonesia.
“Tingginya harga komoditas akan berpengaruh pada capaian ekspor Indonesia, namun tidak mencerminkan kualitas dan daya saing produk Indonesia” ucap tambah Deasy.
Dalam dua dekade terakhir, kontribusi ekspor Indonesia stagnan di angka 0,9% dan menempati peringkat 64 dari 127 negara berdasarkan data OEC.
Kemudian pada tahun 2020, jumlah ekspor Indonesia menyentuh 178 Miliar USD dan menempati urutan 28 dari total 226 negara.
Sementara itu, pelaku industri dalam negeri yang terlibat dalam ekspor hanya di angka 18%.
Artinya adalah bahwa sebagian besar pelaku usaha hanya berorientasi di pasar domestik.
Masyarakat umum pun dapat membantu menjadi fasilitator ekspor—seperti misalnya adalah ketika terdapat produsen suatu produk olahan, dapat diajak dan dibantu untuk melakukan ekspor.
Mari kita berkontribusi untuk meningkatkan ekspor Indonesia! (OEC/Okezone/Warta, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi