Tuna Rasa Baby Lobster

waktu baca 5 menit
Tuna sirip kuning hasil tangkapan nelayan asal Sinjai, Sulsel didaratkan di Pacitan

KEMPALAN: MINGGU lalu saya diundang Ratmo, Nelayan Tamperan Pacitan. Cukup lama tidak bertemu sejak pandemi covid-19 merebak tiga tahun lalu. “Kemarin seratus hari mendiang ibu saya pak. Di rumah masih banyak tamu. Kita ketemu di warung biasanya di sekitar tepei,” ajaknya. Di warung makan sudah tersaji potongan ikan tuna cukup besar. Ada sayur kuning kepala tuna, tuna bakar dan tuna goreng, sambal pencit, nasi tiwul lengkap dengan lalapan sayur basah diantaranya kembang turi dan kecipir. “Kemarin saya beli tuna sekitar tujuh puluh kilo beratnya untuk kepentingan di rumah,” ucapnya ringan sambil mengisap rokok kretek kegemarannya.

Menurutnya, sudah dua bulan ini tidak ada ikan di Tempat Pelelangan, nelayan dari Pekalongan, Tegal dan Sinjai Sulsel yang biasa mendaratkan ikan di Pacitan pulang kampung seperti musim barat pada umumnya. “Saya beli tuna di gudang penyimpanan depan itu, harga pertemanan, dua setengah juta”,  tuturnya ringan. Pasaran Tuna sirip kuning di Pelabuhan Ikan Tamperan bekisar Rp 50-52 ribu per kilogram. “ Di Pacitan selain tuna yang harganya paling mahal sekarang ada saingannya, benur.” Guraunya sambil tertawa renyah.

BACA JUGA: Integrasi Tata Ruang dan Nasib Area Konservasi

Bagi Ratmo dan teman nelayan benur lainnya di Pacitan sejak regulasi aturan main Benih Bening Lobster (BBL) setiap hari ‘berenang’ uang. Sehari dapat 1 juta rupiah bukan hal yang sulit. Untuk 70 ekor benur seukuran lalat harganya Rp 420 ribu. ” Itu pak kapal saya ada enam semua dimanfaatkan untuk menangkap benur,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kolam labuh khusus perahu penangkap benur di Pelabuhan Perikanan Tamperan milik Pemprov Jatim. Perahunya mirip sampan besar, panjang 5 meter dan lebar 2 meter lengkap dengan mesin genset dan lampu gantung. Sinarnya menjadi daya tarik BBL untuk menempel di jaring khusus di sisi kapal yang terbuat dari serabut kelapa atau kain rajutan kasar mirip pengepel lantai.

Walaupun dilarang diperjual belikan dan diekspor sejak setahun lalu, BBL terbukti membawa berkah masyarakat pesisir yang masih diberi kebebasan menangkap. “Harganya stabil enam ribu per ekor untuk jenis pasir, sedangkan mutiara dihargai sepuluh ribu oleh pengepul,” tambah Ratmo sambil menyeruput kopi pahit ramuan kegemarannya. Setiap malam lanjutnya, ratusan nelayan benur melaut tidak jauh dari Teluk Pacitan dan sekitarnya. “Rata rata per perahu mendapat minimal lima puluh ekor, bahkan ada yang lebih dari seratus ekor jenis pasir sedangkan jenis mutiara jumlahnya sedikit,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *