Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 08:40 WIB
Surabaya
--°C

Guruku, Api yang Tak Pernah Padam

Oleh: Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan

KEMPALAN: Menjelang dan Awal Tahun 70-an.
Begitu memasuki halaman sekolah,
Kutemukan duniaku yang baru,
Aku setiap hari melihatmu,
Kau berdiri dihadapan kami,
Atau duduk di belakang meja kantor dengan tumpukan kertas dan buku,
Sesekali wajah ceriamu menyapu seluruh ruangan tapi tak jarang kulihat banyak kerut di dahimu,
Aku suka memandangi baju kurung panjang yang menutup seluruh tubuhmu,
Atau stelan safari putih atau coklat,

Mengkilat warna rambutmu dengan disisir menyamping,
Selesai menulis di depan, kadang kau menepuk-nepukkan tanganmu atau menghembuskan udara ketelapak tanganmu,
Lalu aku sering berpikir bagaimana bisa kau menghafal semua yang kau sampaikan?
Kau pasti mahluk paling pintar di dunia.

Kami masing-masing menghafal suara, bahkan batukmu, juga gerak tubuh yang sering diperagakanmu,
Libur ahad seakan terlalu lama untuk menahan kangen bertemu lagi denganmu,
Kadang jika ada Pa dan Bu Guru yang sakit, selalu ada Guru yang tampil bercerita Kisah Nabi-Nabi,
Kadang letih nampak di wajah sabarmu,

BACA JUGA  HEBOH!: "Ngegas Poll, Bleyer Poll, Keren Poll ‘Jayandaru Vol 1 2026’ Buktikan 2T Bukan Sekadar Kebisingan, Tapi Ekonomi dan Disiplin"

Lebih 40 tahun setelah aku lulus SMP, aku mengunjungi rumahmu setelah lama tak kunjung menemukan alamat.
Nasehatmu cuma satu buat kami, “Jangan terlalu njlimet memikirkan dunia.”
Aku menampak itu di suaramu, tetap teduh dan bersahaja, seakan dunia berjalan perlahan dibelakangmu.

Menjelang Tahun 80-an.
Seiring waktu dan perubahan..lalu aku memandangmu sebagai ‘Sahabat’,
Aku tak cuma bicara tentang PR yang lupa tak kukerjakan, tapi juga puisi dan pantun buat seseorang dan orang rumah yang sulit kumengerti,
Aku suka nasehat-nasehat pendekmu.., ‘jangan suka tidur siang kecuali kau sudah nikah, jangan suka terlalu mengagumi seseorang, jika orang bisa baik maka kau pun bisa lebih baik, ga usah pacaran nanti jodoh juga datang’,

Tak semua tetap tersenyum, ada juga yang tak tahan untuk tidak memukul,
Tapi.. sadar, kami sering keterlaluan dan membahayakan,
Lapor pada orang tua? Jangan-jangan malah dapat bonus pukulan.
Aku ingat ketika mesti turun ke jalan tahun 78, Pa dan Bu Guru cuma menatap bingung,

BACA JUGA  Cara Elegan DPC PDI Perjuangan Gresik Antar Keberkahan Iduladha ke Pintu Rumah Warga

Ketika Perpisahan SMA, aku kagum menatapmu naik ke Podium dan bersuara lantang, hingga kini rangkaian kata-katamu tetap kukenang:
“Perjuangan yang telah kalian lakukan bukan yang terakhir, bukan pula awal sebuah akhir, ia hanya akhir sebuah awal.”

Nun.. 35 tahun kemudian, ketika aku berjumpa denganmu, dan rangkaian kata itu kuucapkan dihadapanmu, matamu berkaca-kaca.

Kangen aku melihatmu dihadapanku lagi,
Kau..Bapak dan Ibu Guruku..,
Banyak yang telah berpulang..namun yang ada pun tetap berdiri dihadapan,
Semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala menempatkan pada sebaik tempat disisi-Nya..aamiiiin,
Maafkan kami yang sering membuatmu mengurut dada,
Tetaplah berbagi dengan cinta, sepenuh hati dan penuh keikhlasan.
Salam hormat.

(*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.