
Oleh: IBU DR.HJ. MIHMIDATY YA’COUB
KEMPALAN: Dalam perspektif Islam, penyakit hati seringkali diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan sejenisnya. Hati itu cermin, hati itu sumber. Apa yang keluar dari mulut atau bentuk perilaku itu tergantung dari sumbernya yaitu hati. “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu Namanya hati.” (HR. Muslim no. 1599)
Dalam Islam, penyakit hati memiliki dua makna. Yang dimaksud dengan penyakit hati dalam Islam lebih kepada kerusakan pandangan dan keinginan seseorang terhadap realita atau kebenaran yang ada di hadapannya. Untuk itulah, salah satu fungsi agama adalah menjaga hati agar tetap baik. Yang sering terjadi justru seseorang tidak mengerti bahwa tujuan penciptaan manusia adalah hidup dalam pedoman Al-Qur’an dan As Sunnah.
Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga kelompok, yaitu hati yang sehat (Qolbu shahih), hati yang sakit (Qolbu maridh) dan hati yang mati (Qolbu mayyit). Seorang yang memiliki hati yang sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan bekerja optimal, mampu memilah dan memperbaiki setiap rencana atas suatu Tindakan.
Menurut Hadrotussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari ada berbagai macam penyakit hati, diantaranya, Pamer (riya’), Marah (Al-ghadhab), Rakus (Tama’), Sombong (Al-ujub), Was-was (al-was-wasah), Kikir (Bakhil), dengki dan iri hati (Al-hasd wal hiqd). Ada juga Buta dengan aib sendiri, keji dalam ucapan, suka meremehkan orang lain, sibuk mencari kesalahan orang lain, suka menghina dan sebagainya.
Dalam hal ini, penyakit hati tidak merujuk pada kondisi fisik pada organ hati. Namun, berfokus pada perasaan negatif yang bisa mengganggu kesucian jiwa manusia. Akibatnya, karakter seseorang bisa berubah drastis dan ia kerap melakukan hal buruk. Beberapa penyakit hati bahkan dapat menggugurkan pahala saking bahayanya. Penyakit-penyakit itu antara lain :
• Iri hati, Hasad atau Dengki. Penyakit ini mudah sekali memasuki perasaan seseorang. Sifat Iri paling gampang membuat orang terjatuh dalam lubang kegelapan. Tanpa disadari sifat iri hadir karena seseorang memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Namun, sifat dengki jauh lebih jahat karena berharap orang lain tidak merasakan kebahagiaan.
• Riya’ atau Pamer. Orang yang suka pamer selalu merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain. Mereka selalu ingin dipuji dan dilihat hebat. Tanpa disadari mereka jugalah yang terbiasa menyakiti orang lain. Sifat ini dapat menghilangkan nilai kebaikan yang telah diperbuat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 264 yang artinya, “Hai orang yang meriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena Riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…”
• Ujub atau aselalu merasa berada di atas. Ujub atau perilaku mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan diri sendiri akan menjerumuskan pelakunya ke sifat atau perilaku sombong. Ini bisa terjadi karena merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih ahli, lebih tampan dan sebagainya, dibanding yang lainnya. Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Ujub adalah kecintaan seseorang pada satu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah.”
Orang yang terkena penyakit hati, amalnya tidak ikhlas itu berarti bahwa amalnya gugur tidak berarti apa-apa. Namun begitu, sebagaimana Allah SWT yang menciptakan penyakit, maka Allah jualah yang menurunkan obatnya. Allah SWT berfirman dalam QS. Yunus ayat 57 yang artinya, “Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Obat hati dalam Islam dikenal ada lima perkara. Pertama, membaca Al-Qur’an dan maknanya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra ayat 82 yang artinya, “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” Yang kedua yaitu dengan cara Mendirikan Shalat malam. Obat yang ketiga Berkumpullah dengan orang sholeh. Yang ke empat Memperbanyak Berpuasa dan yang terakhir Memperbanyak zikir malam. Perintah berzikir ini terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
Berbahagialah orang yang sibuk mencari kesalahan diri sendiri sehingga tidak sempat melihat kesalahan atau kekurangan orang lain. (*)

Transkrip oleh: Adib Muzammil
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi