Usman menilai selama ini pemerintah dan DPR tidak pernah melaksanakan amanat undang-undang dan tidak serius mendukung Komnas HAM menginvestigasi kasus-kasus pelanggaran HAM.
Pada 2009 DPR mengeluarkan rekomendasi agar kasus-kasus pelanggaran HAM berat diadili melalui pengadilan ad hoc. Tapi, keputusan itu hanya sekadar keputusan di atas kertas. DPR meminta pemerintah mencari kejelasan nasib dan keberadaan korban penculikan. DPR meminta pemerintah menuntut pelakunya diadili di pengadilan HAM ad hoc. DPR juga meminta pemerintah memulihkan hak korban. DPR juga meminta pemerintah meratifikasi Konvensi Anti Penghilangan Paksa.
Pengangkatan Mayjen Untung dalam posisi strategis ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Tim Mawar dianggap sebagai masa lalu, dan menjadi bagian sejarah yang sudah dilupakan. Tapi, bagi para aktivis demokrasi operasi Tim Mawar akan tetap menjadi bagian dari catatan gelap.
Nama Tim Mawar juga muncul pada proses pemilu presiden 2019 dan disebut terlibat dalam kerusuhan dalam demonstrasi di kantor Bawaslu. Beberapa orang mantan anggota Tim Mawar sekarang masuk ke Departemen Pertahanan menduduki posisi-posisi penting di bawah kepemimpinan Menhan Prabowo Subianto.
Jejak hitam operasi Tim Mawar ini akan tetap menghantui langkah Prabowo. Kalau nanti pada 2024 Prabowo maju lagi sebagai calon presiden maka memori Operasi Mawar akan tetap diungkit lagi. Kata Usman Hamid, bangsa Indonesia mengalami penyakit ‘’short term memory lost’’, kehilangan ingatan jangka pendek.
Daya ingat bangsa Indonesia selalu pendek dan kemampuan untuk mengingat rekam jejak sejarah lemah. Akibatnya banyak rekam jejak hitam yang dilupakan begitu saja. Bangsa Indonesia mengalami myopia sejarah, rabun sejarah, yang menyebabkan gagal belajar dari masa lalu.
Pembunuhan dan penghilangan aktivis reformasi itu terjadi 20 tahun yang lalu, sekarang sudah dilupakan sama sekali. Bahkan hal yang sama terjadi lagi dengan modus yang berbeda tapi akibatnya sama. Pembunuhan terhadap enam pengawal Habib Rizieq Shihab membuka kembali kenangan buruk yang tejadi semasa rezim otoriter Orde Baru.
Peristiwa Kilometer 50 itu sampai sekarang berusaha ditutup-tutupi sebagai sebuah operasi rahasia yang mirip dengan operasi Tim Mawar. Peristiwa Kilometer 50 itu masuk dalam kategori extra-judicial killing dan sudah ada rekomendasi yang menyatakannya sebagai pelanggaran HAM berat.
Pembunuhan Kilometer 50 punya beberapa kemiripan dengan pembunuhan aktivis 1998. Rezim yang ketakutan oleh gerakan oposisi akhirnya memakai jalan kekerasan untuk membungkam suara lawan. Cara-cara keji dan kejam dilakukan untuk membungkam perlawanan.
Jejak operasi gelap 1998 akan tetap terlihat meskipun ditutupi dengan berbagai cara. Jejak pembunuhan Kilometer 50 pun akan tetap menjadi catatan gelap yang akan terus dipertanyakan. Dalam operasi-operasi rahasia seperti itu keterlibatan pimpinan puncak selalu ditutup-tutupi. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa bangkai akan tetap tercium meski ditutup rapat dengan berbagai pencitraan harum mawar.
Bunga mawar akan tetap harum. Tetapi kejahatan atas nama mawar akan tercium busuknya. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi