Dari satu ruang kota ke ruang lainnya, masyarakat diajak membaca kembali narasi besar Kota Surabaya: tentang gagasan kemerdekaan, keberanian rakyat, dan juga pengorbanan mempertahankan republik.
Oleh: M. Isa Ansori
KEMPALAN: Setiap bulan Mei yang menjadi penanda Hari Jadi Surabaya, 31 Mei, kita ini selalu merayakan kemeriahan ulang tahunnya. Kota ini merayakan dengan berbagai tradisi yang menjadi kekhasan kota.
Do saat yang sama pula, seiring dengan perayaan ini kita juga diingatkan kembali dengan narasi heroisme, sejarah perjuangan kota.
Bagaimana kita bisa membayangkan kota yang tiap tahun kita rayakan ulang tahunnya, bila pada 10 November 1945, tidak terjadi pertempuran Surabaya?
Pidato tentang perjuangan diulang. Semangat 10 November kembali dikobarkan. Surabaya kembali dipanggil sebagai Kota Pahlawan.
Tetapi di tengah semua perayaan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan kepada kesadaran sejarah kita bersama: di mana masyarakat Surabaya hari ini bisa benar-benar melihat jejak Soekarno dan Bung Tomo sebagai 2 tokoh penting dalam sejarah heroisme kota ini?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal patung. Bukan pula sekadar romantisme dalam sejarah. Ini tentang bagaimana sebuah kota merawat memori kolektif yang sudah membentuk identitasnya sendiri.
Karena Surabaya tidak menjadi Kota Pahlawan hanya karena slogan. Kota ini dikenang karena keberanian rakyatnya mempertahankan kemerdekaan ketika republik masih sangat muda dan rapuh.
Dan sejarah besar itu tidak lahir dari ruang kosong. Ada visi kebangsaan yang dijaga Bung Karno. Ada api perlawanan rakyat yang dinyalakan Bung Tomo.
Satu menjaga arah revolusi. Satu membakar keberanian arek-arek Suroboyo.
Bayangkan bila saat itu rakyat Surabaya memilih diam ketika tentara Sekutu dan NICA masuk ke kota ini. Mungkin Indonesia tetap merdeka.
Tetapi, republik ini akan kehilangan salah satu fondasi moral terbesarnya: bahwa kemerdekaan dipertahankan dengan keberanian rakyat biasa, bukan hanya hasil diplomasi elit politik.
Karena itu, Pertempuran Surabaya bukan sekadar catatan perang. Ia merupakan identitas psikologis bangsa Indonesia.
Ironisnya, di tengah kebanggaan sebagai Kota Pahlawan, jejak monumental Bung Karno dan Bung Tomo justru belum sungguh terasa kuat di ruang publik Surabaya.
Padahal kota-kota besar dunia memahami satu hal penting: monumen dan simbol sejarah bukan hanya ornamen kota.
Ia adalah cara sebuah peradaban menjaga ingatannya supaya tidak hilang ditelan zaman.
Anak-anak belajar sejarah bukan hanya dari buku pelajaran.
Mereka belajar dari apa yang dilihat di ruang kotanya. Bisa dari patung. Dari monumen. Dari simbol-simbol yang membuat sejarah terasa hidup.
Karena itu, Kota Surabaya sudah waktunya menghadirkan jejak kuat yang dapat menjadi penanda sejarah bagi Bung Karno dan Bung Tomo: patung-patung heroik yang monumental dan berkarakter.
Bukan sekadar ornamen kota yang lewat begitu saja di mata publik. Tetapi simbol sejarah yang mampu menghadirkan kembali energi perjuangan republik di ruang publik Surabaya.
Patung heroik Bung Karno bisa dihadirkan sebagai simbol visi besar kemerdekaan dan kepemimpinan revolusi bangsa.
Sosoknya berdiri tegak dengan tatapan jauh ke depan, menghadirkan keyakinan tentang Indonesia merdeka yang berdaulat dan bermartabat.
Sedangkan patung heroik Bung Tomo harus menghadirkan kobaran semangat perlawanan rakyat Surabaya. Tangan terangkat, wajah penuh keberanian, dan ekspresi yang seolah-olah masih meneriakkan semangat perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajahan.
Keduanya tidak harus berada di satu titik yang sama.
Justru keduanya dapat menjadi rangkaian jejak sejarah Kota Pahlawan yang saling terhubung.
Dari satu ruang kota ke ruang lainnya, masyarakat diajak membaca kembali narasi besar Kota Surabaya: tentang gagasan kemerdekaan, keberanian rakyat, dan juga pengorbanan mempertahankan republik.
Inilah yang seharusnya menjadi identitas Surabaya.
Bukan hanya kota modern dengan gedung dan pusat ekonomi yang terus tumbuh, tetapi kota yang tetap menjaga ruh sejarahnya.
Sebab, kota yang kehilangan ingatan sejarah lambat laun akan kehilangan jiwanya sendiri.
Dan, Surabaya akan tetap dihormati sebagai Kota Pahlawan bukan hanya karena masa lalunya, tetapi karena keberaniannya menjaga warisan perjuangan itu tetap hidup untuk generasi yang akan datang.
*) Isa Ansori, Kolumnis, Akademisi pengajar psikologi komunikasi dan praktisi transaksional analisis, Komunitas Majelis Ngopi Maneh Suroboyo untuk Dinamika Sosial Budaya Masyarakat Surabaya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi