2000 Orang Kabur dari Myanmar, Menyusuri Perbatasan Thailand

waktu baca 2 menit
Ilustrasi Pengungsi Myanmar-Vatican News

NAYPHITAW-KEMPALAN: Sekitar 2000 orang yang terdiri dari pria, perempuan hingga anak kecil telah kabur dari desanya di Myanmar setelah desanya dibombardir oleh Junta Myanmar. Ribuan orang tersebut kemudian terpaksa untuk hidup nomaden di sekitaran sungai Perbatasan Myanmar-Thailand untuk dapat bertahan hidup.

Pertempuran yang hebat antara Junta Myanmar dengan organisasi bersenjata oposisi yang ada di Myanmar telah membuat banyaknya warga Myanmar yang terlantar.

Banyak dari mereka yang kabur ke Thailand, namun karena keadaan yang kurang memadai mulai dari uang hingga lainnya, banyak juga dari mereka yang kembali lagi ke Myanmar secara terpaksa.

Organisasi yang bergerak di bidang HAM juga sudah banyak yang membantu orang yang terlantar tersebut.

Sekitar 2000 orang, berdasarkan yang disebutkan di artikel Aljazeera, berada di sekitaran sungai Thailand yang terpisah dalam empat lokasi.

Salah satu orang yang berada di sekitaran sungai tersebut kemudian diwawancarai oleh reporter Aljazeera yang kemudian mendapatkan fakta bahwa mereka lebih nyaman untuk berada di daerah tersebut dibandingkan berada di Myanmar.

“Di sana, di Myanmar, kami mendapatkan bantuan dan donasi yang kemudian kami dapat kenyang, namun sangat sulit untuk hidup di sana karena terlalu ramai dan lain hal. Di sini, kami dapat hidup secara bebas” ucap orang tersebut, melansir dari Aljazeera.

Di Thailand sendiri, terdapat Kamp penampungan sementara yang terdapat 8000 pengungsi Myanmar.

Palang Merah Internasional kemudian mengatakan bahwa keadaan di Kamp di Thailand tersebut sangat baik karena pengungsi yang ada diberikan kehidupan yang layak sesuai dengan standar yang ada.

UNHCR juga sudah memberikan bantuan ke Kamp di Thailand yang berisikan makanan, masker, obat nyamuk hingga selimut dan lainnya.

Deputi Direktur Human Rights Watch Asia kemudian mengatakan bahwa Thailand harus memberikan bantuan lebih kepada warga Myanmar yang terlantar yang ada di negaranya.

(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *