Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 05:22 WIB
Surabaya
--°C

Bayi yang Berbahaya

Pada kesempatan yang lain, ketika ada acara keakraban di kantor, kami bertemu lagi dengan petugas kebersihan itu. Tetapi kali ini berbeda. Kami mengajaknya berbicara dan bercanda bersama serta bertukar makanan. Saya dapat melihat sukacita di wajahnya. Ia bergembira ketika mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya mengingat dan mengenalinya serta mengajaknya berbicara.

Inilah pengalaman Maria ketika ia tahu bahwa Allah memperhatikannya. Ia yang sebelumnya tidak dipandang dan tidak dianggap, tetapi Allah memperhatikannya. Maria mungkin berkata, “Allah melihatku. Ia memperhatikanku. Ia bahkan memercayakan hal yang besar kepadaku, sehingga seluruh generasi akan memanggilku sebagai orang yang terberkati karena aku sangat diberkati dengan berkat yang tidak pernah dimiliki oleh wanita mana pun di bumi ini.”

Pujian: Berpusat kepada Diri vs. Lip Service

Magnificat Maria mengajarkan kepada kita apa artinya memuji Allah. Memuji Allah tidak pernah terlepas dari pengalaman pribadi kita dengan Allah. Beberapa orang sangat alergi dengan pengalaman dengan alasan bahwa nantinya pujian tersebut akan berpusat kepada diri (self-centered). Namun sangat disayangkan, alasan baik ini membawa kita kepada ekstrem yang tidak kalah berbahaya: lip service (layanan bibir); pujian dinyanyikan dengan benar dan tepat secara doktrinal, namun kering dan dingin karena tidak keluar dari hidup yang mengalami kehadiran Allah. Allah tidak akan menerima pujian semacam ini. Allah bukan hanya menginginkan kita untuk menyanyikan lirik yang tepat, tetapi juga ingin agar lirik yang tepat itu kita yakini dengan sungguh-sungguh karena kita mengalaminya secara pribadi.

BACA JUGA  Benarkah Roy Suryo dan Dokter Tifa Dijadikan Alat Barter Politik?

Sebagian orang jatuh ke ekstrem yang lain, yaitu memusatkan dan memutlakkan pengalaman pribadi ketika memuji Allah. Pujian bukan diarahkan kepada Allah, tetapi kepada pengalaman pribadi itu sendiri. Allah juga tidak akan berkenan dengan pujian seperti ini dengan alasan yang sederhana: orang-orang ini memang tidak sedang memuji Allah tetapi memuji dirinya sendiri.

Pujian Maria lahir dari pengalaman pribadinya, tetapi Maria mengarahkan pujiannya kepada Allah. Dari pengalaman pribadinya, yaitu keadaannya yang dahulu rendah dan sekarang ditinggikan, ia bergerak kepada Allah yang mengangkatnya dengan kuasa dan belas kasihan-Nya. Ia sadar bahwa ia diberkati hanya karena Allah memberkati dia, dan karena itulah objek pujian Maria bukanlah dirinya atau pengalamannya, melainkan Allah, karakter, dan pekerjaan-Nya.

BACA JUGA  ‘Data Center’, Air, dan Pelajaran dari Konflik ‘Google’ di Iowa

Secara khusus, Maria memuji karakter dan pekerjaan Allah di dalam dua hal: tindakan Allah yang meninggikan orang-orang yang rendah dan merendahkan orang-orang yang tinggi (sombong).[1]

Tuhan Meninggikan yang Rendah

Tindakan Allah yang mengangkat orang yang rendah terlihat nyata dalam pengalaman Maria dan melalui pribadi-pribadi lain di sepanjang sejarah. Orang yang rendah hati adalah mereka yang takut akan Allah dan Allah selalu melakukan pekerjaan-Nya melalui orang-orang dengan karakter seperti ini. Di setiap generasi, Allah menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang takut akan Dia, yang berarti menyembah Dia dengan kagum dan hormat. “Takut akan Tuhan berarti menghormati Allah dengan penuh kegembiraan—bukan takut yang tidak rela seperti tawanan perang kepada pemenang perang, tetapi menghormati Dia dengan penuh kasih dengan menghindari apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya dan berjuang untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana seorang anak yang menaati ayah yang mengasihinya.”[2] Orang-orang yang takut akan Tuhan seperti Maria akan diangkat, tidak peduli seberapa rendah kehidupan mereka.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.