Seorang dokter medis Amerika yang melakukan perjalanan ke daratan Tiongkok untuk melayani sebagai misionaris medis pernah berkata:
“Ketika saya merasa jijik dengan kotoran dan kemiskinan, atau merasa marah ketika saya melihat anak-anak jalanan mengemis dengan luka yang ditimbulkan oleh “pemilik” mereka agar mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang, di situlah saya sadar bahwa kepada orang-orang miskin dan terbelakang dari Kekaisaran Romawi inilah Juruselamat kita datang. Berita kedatangan-Nya diberikan kepada orang-orang yang terpinggirkan, dan Dia dituduh menghabiskan waktu-Nya dengan “orang-orang yang salah”. Kebesaran hati-Nya terlihat dalam semua ini—karena tempat tinggal yang menurut kita paling indah adalah tempat pembuangan sampah jika dibandingkan dengan tempat tinggal sorgawi-Nya. Tetapi Dia melewati semua itu dan mengunjungi mereka yang paling membutuhkan.”[3]
Mungkin sebagian dari kita berada dalam kondisi seperti Maria. Kita berada pada strata masyarakat yang rendah; entah karena kita miskin, sakit-sakitan, tidak memiliki pendidikan atau jabatan yang tinggi, dan sebagainya. Jika keadaan kita saat ini demikian, jangan mengeluh kepada Allah. Jangan menghalalkan segala cara untuk memanjat ke posisi yang lebih tinggi di masyarakat, melainkan “rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak. 4:10).
Tuhan Merendahkan yang Tinggi
Allah yang meninggikan yang rendah adalah Allah yang sama yang merendahkan yang tinggi. Inilah yang menjadi tema besar kedua dari Magnificat Maria.
Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik, kedatangan Yesus sering dipresentasikan sebagai kedatangan Kerajaan Allah. Ketika kerajaan yang baru telah datang untuk berkuasa, secara otomatis kerajaan yang sebelumnya akan diturunkan dan berhenti berkuasa. Ini adalah fenomena yang biasa terjadi. Pada bulan Mei 1998, munculnya Orde Reformasi yang dipimpin oleh Presiden B. J. Habibie secara otomatis menandai berhentinya kuasa pemerintahan dari Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.
Hanya Kristus yang berhak menerima kuasa dan kemuliaan, dan ini berarti Allah tidak akan pernah beristirahat, sampai seluruh kuasa dan setiap orang ditaklukkan kepada Kristus serta setiap musuh yang melawan-Nya telah dihancurkan. Secara spesifik, Allah akan menundukkan kesombongan intelektual (Luk. 1:51), kesombongan kedudukan (Luk. 1:52), dan kesombongan kekayaan (Luk. 1:53). “Dapatkah engkau melihat,” tulis Martyn Lloyd-Jones, “bahwa segala sesuatu yang menjadi kesombongan bagi manusia—intelektualitasnya, pengertiannya, kekuatannya, status sosialnya, pengaruhnya, kebenarannya, moralitasnya, etikanya—semuanya ini akan dihancurkan seluruhnya oleh Anak Allah ini?”
Maria menyadari bahwa Anak yang dikandungnya akan mengguncang dunia. Ia akan berdiri tepat berseberangan dengan segala sesuatu yang dikejar oleh manusia. Di dalam Kristus, Allah memutarbalikkan standar yang dipakai manusia untuk mengukur kebesaran dan signifikansi mereka. Orang yang ditinggikan adalah mereka yang merendahkan dirinya. Orang yang direndahkan-Nya adalah pemimpin berkuasa yang menolak kebutuhannya akan Allah. Kita dapat melihat tema ini di sepanjang Kitab Lukas. Orang kaya masuk ke neraka, sedangkan orang yang miskin menikmati kehadiran Allah di sorga (Luk. 16:19-31). Orang Farisi yang berdoa dengan menyombongkan moralitasnya ditolak, sedangkan pemungut cukai yang memukul-mukul dirinya karena sadar dia adalah orang berdosa pulang ke rumah dengan mendapat pembenaran dari Allah (Luk. 14:11; 18:14). Dan di penutup Kitab Lukas, Anak Allah yang merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib kemudian dibangkitkan dalam kemenangan.
Saat ini, Yesus sedang sibuk untuk mengguncang dunia ini. Ia tidak pernah membiarkan segala sesuatu tetap sama. Ia tidak pernah membiarkan segala sesuatu berada dalam status quo. Dalam hal ini, Yesus bukan seorang konservatif. Ia radikal, subversif, dan revolusioner. Inilah yang membuat gereja yang tidur dan mengikuti dunia berada dalam situasi yang berbahaya. Yesus sedang berperang dengan dunia yang berdosa, dan apabila gereja mengikuti dunia ini, gereja sedang menjadikan dirinya musuh Yesus dan target dari kehancuran, sebab Allah tidak akan berhenti bekerja sampai seluruh musuh Yesus ditaklukkan di bawah kaki-Nya. Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa bayi yang sedang dikandung Maria ini adalah Bayi yang paling berbahaya yang pernah dilahirkan di dunia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi