Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 04:01 WIB
Surabaya
--°C

Bayi yang Berbahaya

KEMPALAN: Natal adalah perayaan yang penuh dengan nyanyian. Lagu-lagu Natal—mulai dari yang paling klasik sampai yang paling kontemporer—dimainkan, bukan hanya di gereja, tetapi juga di tempat-tempat lain seperti mal, pasar mini, tempat wisata, taman bermain, atau di tempat-tempat hiburan lainnya.

Kaitan antara Natal dan nyanyian bukanlah fenomena yang terjadi baru-baru ini. Pada peristiwa Natal yang pertama, kelahiran Yesus (yang dirayakan oleh orang Kristen ketika Natal) juga disambut lagu-lagu yang indah: himne dari Elisabet (Luk. 1:42-45), “Magnificat” dari Maria (Luk. 1:46-55), “Benedictus” dari Zakharia (Luk. 1:68-79), “Gloria” dari para malaikat (Luk. 2:14), dan himne dari Simeon (Luk. 2:29-32).

Natal dirayakan dengan nyanyian dan sukacita karena Natal memperingati peristiwa yang besar. Semua manusia sudah berdosa dan berada di bawah murka dan penghukuman Allah. Natal memperingati kedatangan Juruselamat satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah yang menjadi manusia. Peristiwa ini sungguh besar sehingga kita tidak akan merasa cukup dengan hanya mempercakapkannya, tetapi juga tergerak untuk menyanyikannya. Seperti ketika kita jatuh cinta, di mana rasa cinta yang kuat mendorong perasaan itu diekspresikan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan lagu-lagu yang indah.

BACA JUGA  99 Tahun Bersama, Persebaya Surabaya Wajib Juara Liga 1: Momentum Emas 99 Tahun dan "Jimat 4D" Cak Dul!

Maria adalah salah satu orang yang mengalami peristiwa yang luar biasa ini dan ia tergerak untuk menyanyikan lagu yang dikenal dengan judul Magnificat. Judul ini diambil dari kalimat pertama lagu ini, “Magnificat anima mea Dominum” yang berarti “jiwaku memuliakan Allah”. Lirik dari lagu Magnificat dapat kita temukan dalam Lukas 1:46-55.

Tuhan “Menengok” yang Rendah

Maria memulai lagunya dengan memuji belas kasihan Allah yang mau memandang dirinya yang rendah. Maria adalah contoh yang sangat pas. Tidak ada yang lebih rendah dari dia—miskin, masih muda, seorang wanita, petani, dan dari Nazaret, daerah yang tidak dikenal. Maria bukanlah siapa-siapa dan berasal entah dari mana.

BACA JUGA  Tanpa Ideologi: Negara Jadi Banci

Hal ini mengingatkan penulis akan sebuah pengalaman di tempat penulis bekerja. Ketika penulis dan beberapa rekan sedang makan sambil asyik mengobrol, atasan kami tiba-tiba lewat. Kami serentak berdiri, sedikit menundukkan kepala, dan memberikan salam. Tidak lama setelah itu, petugas kebersihan datang mendekati kami. Kami tetap makan dan mengobrol selagi ia membersihkan lantai dan meja. Kami sama sekali tidak bereaksi dan bersikap seolah-olah petugas kebersihan itu tidak ada di sekitar kami. Inilah cara kita memperlakukan orang-orang yang kita anggap rendah: tidak memandang dan bahkan tidak menyadari kehadiran mereka.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.