Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 05:23 WIB
Surabaya
--°C

Bayi yang Berbahaya

Respons Kita sebagai Individu dan Gereja

Beginilah cara Tuhan bekerja: orang yang rendah hati mendapatkan belas kasihan, sedangkan orang yang sombong menerima keadilan; yang rendah diangkat dan yang tinggi direndahkan. Ini berlaku baik untuk setiap manusia, semua bangsa, maupun juga gereja.

Sejarah telah mencatat kehancuran para penguasa sombong yang mencoba menaklukkan dunia: Firaun ditenggelamkan di lautan, bangsa Filistin berlari-larian setelah prajurit kebanggaan mereka dimatikan, Nebukadnezar direndahkan seperti binatang, kaisar-kaisar Romawi mati satu per satu, dan seterusnya.

Tuhan melakukan hal yang sama dengan gereja. Tidak ada yang lebih mematikan bagi kesehatan rohani daripada kesombongan rohani. Gereja-gereja yang membanggakan pelayanannya akan direndahkan sampai mereka belajar untuk memberikan kemuliaan hanya kepada Tuhan, sementara gereja-gereja yang dengan rendah hati melakukan pekerjaan Tuhan dengan tekun akan melihat Allah bekerja di tengah-tengah mereka untuk mempertumbuhkan jemaat dan memanggil orang berdosa kembali kepada Tuhan.

Apa yang berlaku bagi gereja dan bangsa ini juga berlaku bagi individu: “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Inilah yang dinyanyikan Maria, “Ia (Allah) melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk. 1:53; lih. 6:21, 24). Tentu saja ayat ini berimplikasi pada keadilan sosial. Tuhan tidak meninggalkan orang miskin. Ia menyediakan dan memelihara mereka. Tetapi Maria juga berbicara tentang kebutuhan rohani kita akan Allah. Tuhan hanya memuaskan orang yang lapar akan Dia. Jika kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan seperti seorang pengemis membutuhkan roti, Dia akan mengirim kita pergi dengan hampa. Tetapi jika kita memiliki hati yang lapar akan Tuhan—jika kita merindukan pengampunan atas dosa-dosa kita, jika kita haus akan pengenalan tentang Allah, jika kita mendambakan hidup yang kekal di dalam Kristus—Allah akan memuaskan kita dengan kasih karunia-Nya.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Allah seperti inilah yang diagungkan oleh Maria: Allah yang memuaskan. Martin Luther mengatakan bahwa lagu yang dinyanyikan Maria ini adalah tentang “pekerjaan dan perbuatan Tuhan yang besar untuk memperkuat iman kita, untuk menghibur semua orang yang rendah, dan untuk menakutkan semua orang yang perkasa di bumi. Kita harus mempersilakan Magnificat Maria ini untuk mencapai tujuan rangkap tiga ini, karena Maria menyanyikannya bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kita semua, dan mengundang kita untuk menyanyikannya juga.”[4] Luther benar. Lirik dari lagu Maria memperkuat iman kita kepada Yesus Kristus. Lagu ini menghibur kita dengan janji bahwa Tuhan akan mengangkat kita saat kita terpuruk. Lagu ini juga menghajar kesombongan kita, menghancurkan kebanggaan kita akan diri sendiri.

BACA JUGA  Integrasi Kota Taman dan Hutan Kota untuk Masa Depan Surabaya

Penutup

Kiranya momen Natal tahun ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menyanyikan Magnificat milik kita sendiri. Kiranya kita dapat mengalami dan menyanyikan hal-hal besar yang telah Allah lakukan bagi kita. Kiranya kita mengagungkan karya Allah yang besar bagi keselamatan kita melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan kiranya kita juga mengagungkan karya Roh Kudus yang penuh rahmat, yang merendahkan kesombongan kita, sehingga Tuhan dapat mengangkat kita ke dalam kemuliaan.

(Marthin Rynaldo, aktivis Gereja Reformed Injili Indonesia/GRII Katedral Mesias Kemayoran Jakarta)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.