Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 22:32 WIB
Surabaya
--°C

Iman, Pengharapan, dan Kasih

Pak Tong:   Engkau mau menjadi pendeta?

Anak:   Tidak mau, mama tidak percaya, saya juga tidak mau jadi pendeta.

Pak Tong:   Kalau Tuhan yang panggil?

Anak:   Itu lain lagi kalau Tuhan yang panggil.

Pak Tong:   Baik-baik doa ya, kalau Tuhan panggil, engkau jadi pendeta.

Anak:   Iya.

Anak ini juga mengatakan satu hal yang membuat saya kaget setengah mati, ia bertanya kepada papanya.

Anak:   Tuhan Yesus cinta anak-anak?

Papa:   Oh iya dong, Tuhan cinta anak-anak.

Anak:   Pendeta cinta anak-anak?

Papa:   Ya, ada yang cinta.

Anak:   Kenapa ada yang tidak? (catatan: Dia mulai menuntut) Pendeta-pendeta di GRII sudah diselamatkan belum?

Papa:   Ya sudah dong, masak tidak diselamatkan?

Anak:   Saya kira belum tentu, lo.

Papa:   (terkejut) Mengapa tidak tentu?

Anak:   Karena menurut Alkitab, Yesus cinta anak-anak. Lalu orang yang diperanakkan, pasti ikut Yesus cinta anak-anak. Tetapi pendeta GRII ada yang tidak cinta anak-anak. Apakah mereka sudah diselamatkan?

Papa:   (terkejut) Kenapa engkau ngomong begini?

Anak:   Karena mereka tidak cinta anak-anak.

Papa:   Kamu kok tahu kalau pendeta-pendeta tidak cinta anak-anak?

Anak:   Saya dekati satu-satu mau lihat reaksi mereka. Ada yang tidak gubris saya, saya tanya tidak dijawab, kecuali Stephen Tong dan Ivan Kristiono, kalau saya ngomong dijawab. Saya kira dua orang ini sudah diselamatkan, yang lain belum tentu.

Saya terkejut luar biasa. Dalam rapat dosen, saya membicarakan hal ini, “Tahukah engkau, ada anak umur 10 tahun yang meragukan engkau sudah diselamatkan atau belum?” Mereka juga terkejut. “Karena dia merasa engkau kurang cinta.” Cinta bukan dengan perkataan ‘Aku cinta’ sementara yang dicintai merasa tidak dicintai. Jika engkau mengatakan, “Saya cinta istriku,” tetapi istrimu tidak merasa, engkau gagal. Jika engkau sangat memperhatikan keluarga, tetapi keluargamu tidak merasa diperhatikan, engkau gagal. Engkau merasa saya sudah mencintai keluarga, saya sudah memberikan uang yang cukup, tetapi yang dicintai tidak merasa dicintai, maka engkau harus mengoreksi diri sendiri.

Anak umur 10 tahun kadang-kadang dapat dipakai Tuhan untuk memberi pewahyuan baru kepada kita. Anak kecil kadang-kadang dipakai Tuhan untuk menegur kekurangan kita. Beberapa waktu ini saya sangat memikirkan hal ini, benarkah hamba-hamba Tuhan sudah diperanakkan? Saya percaya sudah, tetapi mengapa anak kecil itu merasa kurang dicintai oleh hamba Tuhan? Karena kita mengira kita sudah cukup mempunyai cinta, tetapi bagi anak ini tidak cukup. Apakah Tuhan memakai anak ini untuk membuat kebangunan rohani di antara pendeta kita? Kebangunan rohani tidak tentu harus dari revivalist, kebangunan rohani kadang-kadang bisa dari anak kecil. Kadang-kadang orang tua tidak tahu salahnya mereka di mana.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.